Melalui teknologi ini, bambu dapat diolah menjadi berbagai produk furniture modern dengan sistem pengepakan lebih fleksibel sehingga berpotensi dipasarkan melalui marketplace hingga pasar nasional.
“Selama ini bambu hanya dipandang sebagai kerajinan tradisional. Setelah ikut pelatihan ini, kami mulai melihat bahwa bambu bisa menjadi produk industri dengan nilai jual lebih tinggi,” ungkap salah satu peserta pelatihan.
Baca Juga:
Pemda Ngada Komitmen Memperkuat Penyelanggaraan Konservasi Berkelanjutan Terhadap Aset Ekologis
Pihak Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada juga mengapresiasi kolaborasi tersebut karena dinilai sejalan dengan program pemerintah daerah dalam mengembangkan industri bambu sebagai salah satu produk unggulan daerah. Potensi bambu di Ngada sendiri dinilai sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
Asisten III Kabupaten Ngada dalam sambutannya menegaskan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah seperti ini perlu terus diperluas, terutama untuk menjawab tantangan keterbatasan inovasi dan teknologi di daerah.
Baca Juga:
Tim ITB Teliti Pengembangan Pengolahan Bambu di Kabupaten Ngada
Sementara itu, Ketua Tim ITB, Ihak Sumardi, menyebut keberhasilan para pengrajin mempraktikkan teknologi pengolahan bambu menjadi produk yang layak diproduksi menjadi indikator penting bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Menariknya, selama pelatihan berlangsung, salah satu staf Dinas Perindustrian melakukan uji respon pasar dengan membagikan dokumentasi dan contoh produk hasil pelatihan melalui Facebook. Hasilnya di luar dugaan. Banyak warganet mulai menanyakan harga hingga tertarik memesan produk bambu laminasi tersebut.