Ngada-NTT.WahanaNews.co| Upaya mengubah bambu dari sekadar bahan kerajinan tradisional menjadi produk industri bernilai tinggi mulai digerakkan di Kabupaten Ngada.
Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada menggelar pelatihan pengolahan bambu menjadi papan laminasi yang diyakini membuka peluang pasar lebih luas bagi para pengrajin lokal.
Baca Juga:
Pemda Ngada Komitmen Memperkuat Penyelanggaraan Konservasi Berkelanjutan Terhadap Aset Ekologis
Kegiatan yang berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di UPTD Pusat Kegiatan Pengolahan Bambu tersebut merupakan bagian dari Program Penelitian Berdampak Tahun 2025 yang bertujuan mendorong hilirisasi hasil riset agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Bupati Ngada yang diwakili Asisten III Kabupaten Ngada, Drh. A.M. Felisitas Kila. Hadir pula Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada, Johanes Rodja, SE, para pengrajin bambu, serta pelaku usaha pengolahan bambu dari berbagai wilayah di Ngada.
Sementara dari pihak ITB, hadir sejumlah peneliti yakni Ihak Sumardi, Yoyo Suhaya, dan Susana Paulina Dewi.
Baca Juga:
Tim ITB Teliti Pengembangan Pengolahan Bambu di Kabupaten Ngada
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembelajaran lengkap mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan strip bambu, proses pengeleman, pengepresan, hingga finishing produk papan laminasi. Para peserta juga diperkenalkan dengan konsep pengembangan produk bambu modern yang memiliki nilai tambah ekonomi lebih tinggi dibanding kerajinan konvensional.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak pengrajin menilai teknologi papan laminasi menjadi solusi atas keterbatasan pemasaran produk bambu tradisional yang selama ini sulit menembus pasar luar daerah maupun luar pulau.
Melalui teknologi ini, bambu dapat diolah menjadi berbagai produk furniture modern dengan sistem pengepakan lebih fleksibel sehingga berpotensi dipasarkan melalui marketplace hingga pasar nasional.
“Selama ini bambu hanya dipandang sebagai kerajinan tradisional. Setelah ikut pelatihan ini, kami mulai melihat bahwa bambu bisa menjadi produk industri dengan nilai jual lebih tinggi,” ungkap salah satu peserta pelatihan.
Pihak Dinas Perindustrian Kabupaten Ngada juga mengapresiasi kolaborasi tersebut karena dinilai sejalan dengan program pemerintah daerah dalam mengembangkan industri bambu sebagai salah satu produk unggulan daerah. Potensi bambu di Ngada sendiri dinilai sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
Asisten III Kabupaten Ngada dalam sambutannya menegaskan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah seperti ini perlu terus diperluas, terutama untuk menjawab tantangan keterbatasan inovasi dan teknologi di daerah.
Sementara itu, Ketua Tim ITB, Ihak Sumardi, menyebut keberhasilan para pengrajin mempraktikkan teknologi pengolahan bambu menjadi produk yang layak diproduksi menjadi indikator penting bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.
Menariknya, selama pelatihan berlangsung, salah satu staf Dinas Perindustrian melakukan uji respon pasar dengan membagikan dokumentasi dan contoh produk hasil pelatihan melalui Facebook. Hasilnya di luar dugaan. Banyak warganet mulai menanyakan harga hingga tertarik memesan produk bambu laminasi tersebut.
Fenomena itu menjadi sinyal awal bahwa pasar untuk produk bambu laminasi sebenarnya sudah mulai terbentuk. Tantangan berikutnya kini terletak pada kemampuan pengrajin dalam menjaga kualitas produksi, memperkuat desain, dan membangun keberlanjutan usaha.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, industri bambu berbasis potensi lokal di Kabupaten Ngada diharapkan mampu berkembang menjadi sumber ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat. [frs]