“Penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kajian ilmiah, tetapi juga menjadi sarana alih teknologi bagi para pengrajin bambu di Kabupaten Ngada, sehingga kualitas dan daya saing produk dapat meningkat,” ujarnya, Rabu (27/1/26).
Bupati Ngada, Raymundus Bena yang menerima langsung Tim peneliti dari ITB itu menyambut positif kegiatan dimaksud.
Baca Juga:
Polres Toba Tetapkan DN DPO, Serta Pengembangan Kasus Terhadap HN Dan Beserta Yang Lainnya
“Kami menyambut baik kegiatan penelitian ini karena sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Ngada dalam meningkatkan potensi unggulan daerah, khususnya bambu. Ini menjadi momentum kebangkitan pengolahan bambu dari pola tradisional menuju pemanfaatan teknologi yang lebih maju,” pungkas Ray Bena, sapaan akrab Bupati Ngada, Senin (26/1/26).
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada, Johanes Rodja. Ia menyatakan pihaknya siap mendukung dan bersinergi dengan Tim ITB dalam pengembangan pengolahan bambu ke depan.
Baca Juga:
Workshop Pengembangan Kopi dan Kakao di Karo: Langkah Nyata Menuju Keberlanjutan
Selama kunjungan, tim peneliti dan pemerintah daerah melakukan berbagai diskusi terkait kemungkinan penerapan teknologi pengolahan bambu di masa mendatang, termasuk pengembangan produk bambu yang lebih beragam dan berorientasi pasar, tandasnya.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Tim ITB dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) serta Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada dalam pengembangan pengolahan bambu tahun 2025.
Dia berharap penelitian ini menjadi langkah awal penguatan industri bambu di Kabupaten Ngada secara berkelanjutan serta berdampak langsung bagi kesejahteraan pengrajin. [frs]