“Hari ini bukan sekedar seremoni akademik; hari ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang kalian pelajari selama bertahun-tahun di ruang kuliah, di laboratorium, dan di lapangan, kini harus bertransformasi menjadi bekal kehidupan, menjadi arah masa depan, dan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat,” tukasnya.
Romi menjelaskan, pendidikan hari ini berada dalam era yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Kita berada dalam arus besar perubahan yang ditandai dengan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan inovasi-inovasi yang berkembang begitu cepat.
Baca Juga:
Menaker: Penguatan SDM dan Semangat Kebangsaan Jadi Fondasi Transformasi Dunia Kerja
Di satu sisu kita menghadapi berbagai masalah semakin dalamnya ketergantungan pada teknologi, ancaman lunturnya nilai-nilai kemanusiaan jika lanjut dia, teknologi tidak diarahkan secara benar, dan kesenjangan akses digital yang masih menjadi tantangan di daerah-daerah seperti kita.
Namun kata Romi Juji, di sisi lain, pendidikan modern membawa berkat dan peluang besar, seperti; proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, kreatif dan terbuka; akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas; riset pertanian, teknologi pangan, kehutanan dan lingkungan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat; dan mahasiswa dapat belajar dari mana saja, bahkan terhubung dengan dunia global, tandas dia.
Baca Juga:
Sederhana Tapi Berkesan, Golkar Ngada Semarakkan Puncak HUT ke-61, Sentuh Nasionalisme Kaum Milenial
Kuncinya adalah tutur Romi, kemampuan kita menempatkan teknologi sebagai alat untuk memanusiakan manusia, bukan menggantikannya. Pendidik, mahasiswa, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi proses memerdekan, mencerdaskan, dan menumbuhkan karakter. [frs]