Ngada.NTT.WahanaNews.co- Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji berkesempatan menghadiri upacara Wisuda Angkatan ke-2 Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER FB) pada Sabtu, (29/1125) di aula Patronat MBC Bajawa.
Kepada para Winisuda Romi Juji berpesan untuk menjadi generasi yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi lebih dari itu yakni menghidupkan ilmu. Tidak hanya mengejar pekerjaan, tetap menciptakan kesempatan. Tidak hanya mencari masa depan, tetapi membangun masa depan bagi diri sendiri, dan bagi Kabupaten Ngada.
Baca Juga:
Menaker: Penguatan SDM dan Semangat Kebangsaan Jadi Fondasi Transformasi Dunia Kerja
Wisuda kata dia, bukan titik akhir, ia adalah pintu gerbang untuk menjalani fase dimana ilmu bukan sekadar menjadi teori, tetapi berubah menjadi karya, tindakan, dan pengabdian.
Romi Juji berharap agar kampus STIPER Flores Bajawa terus menjadi ruang yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, inovatif, dan berakar kuat pada budaya dan nilai-nilai lokal.
Baca Juga:
Sederhana Tapi Berkesan, Golkar Ngada Semarakkan Puncak HUT ke-61, Sentuh Nasionalisme Kaum Milenial
“Semoga STIPER semakin berkembang, semakin relevan dengan kebutuhan zaman, dan semakin berkontribusi pada kemajuan daerah. Berjalanlah dengan keyakinan, bekerjalah dengan hati, berkaryalah dengan integritas. Dan ingatlah selalu bahwa ilmu yang kalian miliki adalah amanah untuk melayani, membangun, dan membawa terang bagi masyarakat,” ujar dia.
Lebih lanjut Anggota DPRD dari Dapil Ngada III ini mengatakan, lembaga DPRD memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk mendukung pengembangan pendidikan di daerah ini melalui fungsi dan peran sebagai DPRD.
Fungsi dan peran itu dijalankan melalui; mendorong kebijakan anggaran yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan; mengawasi pelaksanaan program-program pendidikan agar tepat sasaran; mendukung pembangunan sarana prasarana pendidikan; serta memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, termasuk STIPER FB dalam hal penelitian, pelatihan, pengabdian masyarakat, dan inovasi, pungkas Romi.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa STIPER Flores Bajawa adalah aset penting daerah. Kampus ini bukan hanya tenpat belajar, tetapi pusat lahirnya SDM unggul yang akan menjadi motor pembangunan pertanian, lingkungan, dan pangan di Ngada.
Karena itu kata dia, DPRD siap menjadi mitra strategis dan pendukung dalam pengembangan STIPER ke depan sembari berharap agar kampus ini terus menjadi ruang yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, inovatif, dan berakar kuat pada budaya dan nilai-nilai lokal.
Politisi Partai Golkar ini mengatakan, seorang lulusan STIPER Flores Bajawa bukan hanya dituntut bisa menghitung produktivitas lahan, tetapi mampu memikirkan bagaimana petani kecil dapat meningkat kesejahteraannya.
Bukan hanya mampu mengidentifikasi jenis tanaman tetapi lanjut dia, mampu memikirkan bagaimana teknologi pertanian modern bisa diadaptasikan pada kondisi lokal di Ngada. Bukan hanya memahami teori lingkungan, tetapi membela kelestarian hutan dan tanah sebagai bagian dari identitas masyarakat.
“Kalian adalah generasi yang membawa harapan. Harapan bahwa ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi realitas yang memperbaiki kehidupan banyak orang,” ungkapnya.
Sekretaris DPD Golkar Ngada ini juga mengingatkan kepada 41 winisuda STIPER FB bahwa pendidikan bukanlah sekedar mengejar gelar atau memenuhi kewajiban akademik, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, kecerdasan dan kepakaan sosial. “Non Scholae, Sed Vitae Discimus” Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup,” ucap Romi Juji mengaksentuasi ungkapan filsuf Stoik, Seneca.
Pendidikan sejati kata dia, adalah pendidikan yang memampukan kita untuk menjawab tantangan hidup, berkontribusi bagi masyarakat dan menjadi manusia yang bermanfaat serta bermartabat.
“Hari ini bukan sekedar seremoni akademik; hari ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang kalian pelajari selama bertahun-tahun di ruang kuliah, di laboratorium, dan di lapangan, kini harus bertransformasi menjadi bekal kehidupan, menjadi arah masa depan, dan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat,” tukasnya.
Romi menjelaskan, pendidikan hari ini berada dalam era yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Kita berada dalam arus besar perubahan yang ditandai dengan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan inovasi-inovasi yang berkembang begitu cepat.
Di satu sisu kita menghadapi berbagai masalah semakin dalamnya ketergantungan pada teknologi, ancaman lunturnya nilai-nilai kemanusiaan jika lanjut dia, teknologi tidak diarahkan secara benar, dan kesenjangan akses digital yang masih menjadi tantangan di daerah-daerah seperti kita.
Namun kata Romi Juji, di sisi lain, pendidikan modern membawa berkat dan peluang besar, seperti; proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, kreatif dan terbuka; akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas; riset pertanian, teknologi pangan, kehutanan dan lingkungan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat; dan mahasiswa dapat belajar dari mana saja, bahkan terhubung dengan dunia global, tandas dia.
Kuncinya adalah tutur Romi, kemampuan kita menempatkan teknologi sebagai alat untuk memanusiakan manusia, bukan menggantikannya. Pendidik, mahasiswa, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi proses memerdekan, mencerdaskan, dan menumbuhkan karakter. [frs]