Komodo Bukan Sekadar Satwa
Di Riung, komodo atau mbou bukan hanya bagian dari kekayaan hayati.
Keberadaannya telah menjadi identitas kawasan sekaligus magnet yang dapat menggerakkan sektor pariwisata.
Baca Juga:
HAN ke-42 di Ngada: Bupati Ray Bena Tegaskan Anak Bukan Sekadar Penerus, Tapi Bagian dari Pembangunan Hari Ini
Namun, di balik potensi tersebut terdapat tantangan besar. Pertumbuhan pariwisata tidak boleh berubah menjadi ancaman bagi habitat komodo dan ekosistem pesisir yang menjadi kekuatan utama Riung.
Karena itu, Festival Komodo Riung 2026 membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemeriahan sebuah agenda wisata.
Konservasi harus menjadi fondasi pembangunan, bukan penghalang pembangunan.
Jika alam terjaga, pariwisata tumbuh. Jika pariwisata tumbuh secara berkelanjutan, masyarakat di sekitar kawasan konservasi harus menjadi pihak yang ikut merasakan manfaat ekonominya.
Baca Juga:
Pecah Penantian Bertahun-Tahun! Raymundus Bena Resmikan SMP Negeri Rawangkalo, Era Baru Pendidikan di Pelosok Ngada Dimulai
Di sinilah peran masyarakat menjadi sangat penting.
Forum Konservasi Mbou Riung tidak menempatkan masyarakat sebagai penonton, tetapi sebagai aktor utama dalam menjaga keberadaan komodo dan ekosistemnya.
Masyarakat lokal memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterikatan langsung dengan kawasan. Karena itu, keterlibatan mereka menjadi salah satu kunci agar konservasi tidak berhenti pada aturan, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian.
Pantai Watulajar