Ngada-NTT.WahanaNews.co| Bara konservasi dinyalakan dari Watulajar.
Di pesisir Desa Lengkosambi Utara, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, masyarakat bersama pemerintah dan para pegiat konservasi mengirimkan pesan kuat: menjaga komodo bukan sekadar kewajiban melindungi satwa, tetapi juga investasi untuk masa depan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam Festival Komodo Riung 2026 yang resmi dibuka Bupati Ngada, Raymundus Bena, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga:
HAN ke-42 di Ngada: Bupati Ray Bena Tegaskan Anak Bukan Sekadar Penerus, Tapi Bagian dari Pembangunan Hari Ini
Festival yang digelar di Watulajar tersebut menjadi ruang perjumpaan antara konservasi, budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Ngada dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, dengan dukungan INFLORES GeF UNDP.
Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Forum Konservasi Mbou (Komodo) Riung bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada.
Pantauan Media, turut hadir dalam pembukaan festival, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, Forkopimda Ngada, Kepala BBKSDA NTT, Project Manager In Flores, anggota DPRD Ngada, para Asisten Setda Ngada, pimpinan OPD lingkup Pemkab Ngada, Camat Riung, Forkopimcam, pelaku UMKM, pelaku pariwisata serta masyarakat setempat.
Baca Juga:
Pecah Penantian Bertahun-Tahun! Raymundus Bena Resmikan SMP Negeri Rawangkalo, Era Baru Pendidikan di Pelosok Ngada Dimulai
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan satu hal penting: masa depan komodo dan kawasan Riung tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat dan lokal, lembaga konservasi, pelaku wisata, dunia usaha hingga mitra pembangunan.
Indahnya Alam Riung