Setiap potret yang ia gambar terasa hidup. Ia mampu menangkap sorot mata, senyum kecil, bahkan emosi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Orang-orang yang melihat hasil lukisannya sering terdiam lama. Bukan hanya karena mirip, tetapi karena lukisan itu terasa memiliki jiwa.
Baca Juga:
SPENDU CUP I Meledak! Arena Voli Putri SD/MI di Bajawa Berubah Jadi Lautan Sorak dan Air Mata Perjuangan
Kini, bakat Rinto mulai dikenal luas. Lewat media sosial, pesanan datang dari berbagai tempat di luar Ngada. Banyak orang meminta wajah mereka dilukis olehnya. Mereka datang bukan karena iba, melainkan karena kagum pada ketekunan dan kualitas karya yang lahir dari jepitan tangan seorang pemuda Boradho.
Namun di balik bakat besar itu, ada perjuangan yang tak banyak diketahui orang.
Harga kertas, pensil, cat, dan kanvas sering menjadi hambatan terbesar. Di desa, alat-alat melukis sulit ditemukan dan harganya tidak murah. Kadang Rinto harus menabung lama hanya untuk membeli beberapa lembar kertas gambar. Padahal semangatnya untuk berkarya tidak pernah habis.
Baca Juga:
Ketika Jalan Ditutup, PPM Tersendat
Di sela aktivitas melukis, Rinto juga membantu mamanya menggulung benang untuk ditenun. Dengan tangan yang sama, yang biasa melahirkan wajah-wajah indah di atas kertas, ia membantu keluarga dengan penuh kesabaran. Baginya, karya dan keluarga adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam hidupnya. Ayah, mama, dan saudara-saudaranya membantu apa pun yang dibutuhkan Rinto. Mereka menyiapkan meja, memutar posisi kertas, bahkan menjadi “kaki” bagi Rinto ketika ia kesulitan bergerak. Rumah kecil di Boradho itu bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah harapan tumbuh, doa dipanjatkan, dan karya-karya hebat dilahirkan.