Ngada-NTT.WahanaNews.co| Di sebuah rumah sederhana di Kampung Boradho, Desa Boradho, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, lahir karya-karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyentuh hati.
Karya itu datang dari seorang pemuda bernama Rinto Moti — sosok yang mengajarkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kekuatan yang luar biasa.
Baca Juga:
SPENDU CUP I Meledak! Arena Voli Putri SD/MI di Bajawa Berubah Jadi Lautan Sorak dan Air Mata Perjuangan
Rinto adalah anak ke-6 dari tujuh bersaudara, putra pasangan Benediktus Pawo dan keluarga sederhana yang hidup dengan penuh kasih dan perjuangan. Sejak lahir, ia tidak memiliki kedua kaki. Namun, Tuhan seolah mengganti keterbatasan itu dengan keteguhan hati yang tak mudah runtuh.
Di atas meja kecil yang mulai usang, Rinto menghabiskan hari-harinya bersama pensil, kertas, dan imajinasi. Dengan jepitan tangannya, ia menggambar perlahan. Garis demi garis lahir penuh ketelitian. Wajah demi wajah hidup di atas kertas.
Tidak cepat, tidak mudah, tetapi selalu penuh jiwa.
Baca Juga:
Ketika Jalan Ditutup, PPM Tersendat
Setiap karya membutuhkan waktu berjam-jam. Kadang punggungnya pegal, tangannya kaku, napasnya tertahan menahan lelah. Namun ia tetap melanjutkan goresannya. Bagi Rinto, berhenti berarti membiarkan cerita tidak selesai.
“Kalau berhenti, ceritanya tidak akan selesai,” ucapnya lirih.
Tidak ada sekolah seni. Tidak ada sanggar lukis. Tidak ada guru yang mengajarinya teknik menggambar secara formal. Semua ia pelajari sendiri. Dari melihat, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari keterbatasan itu lahir gaya khas Rinto: detail, tenang, dan penuh rasa.