Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan. Setelah itu, peserta mendapatkan pelatihan tentang pemilahan, pembersihan, pencacahan, hingga pengolahan bahan limbah.
Pelatihan tidak berhenti di ruang teori. Para pemuda langsung terlibat dalam praktik pembuatan EcoFusion Paving Blok.
Baca Juga:
Kejati Jambi dan PLN Perkuat Sinergi Hukum, Dorong Pencegahan Penyalahgunaan Tenaga Listrik
Dalam inovasi tersebut, sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan pengikat, sementara daun bambu kering menjadi bahan tambahan dalam campuran paving blok.
Proses tersebut menjadi pengalaman baru bagi para pemuda. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru dipelajari untuk diolah menjadi material yang memiliki manfaat bagi lingkungan desa.
Produk EcoFusion Paving Blok dapat diarahkan untuk kebutuhan seperti jalur pejalan kaki, halaman sekolah, area publik hingga fasilitas desa yang membutuhkan perkerasan sederhana.
Baca Juga:
Tabrak Lari Aiptu Asep, Mahasiswa 20 Tahun Ditetapkan sebagai Tersangka
Bukan sekadar membuat paving blok, program ini sedang mengubah cara pandang terhadap sampah.
Sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai masalah yang harus disingkirkan, tetapi sebagai bahan baku yang bisa dimanfaatkan secara produktif.
Pada saat yang sama, pemuda didorong menjadi aktor utama perubahan, bukan sekadar penerima manfaat program.