Ngada-NTT.WahanaNews.co| Jangan buru-buru menyebut sampah sebagai barang tak berguna. Di Desa Beiwali, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, sampah plastik dan limbah daun bambu justru sedang diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Di tangan Kelompok Pemuda Desa Beiwali, sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan disulap menjadi EcoFusion Paving Blok—sebuah inovasi yang menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan pemuda desa.
Baca Juga:
Kejati Jambi dan PLN Perkuat Sinergi Hukum, Dorong Pencegahan Penyalahgunaan Tenaga Listrik
Inovasi tersebut lahir melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan: Konversi Sampah Plastik dan Daun Bambu Menjadi EcoFusion Paving Blok” yang digagas tim dari STKIP Citra Bakti.
Program ini dipimpin Dr. Ngurah Mahendra Dinatha, S.Pd., M.Si., dosen PJKR STKIP Citra Bakti, bersama Dr. Dimas Qondias, M.Pd., dosen PGSD, serta Fransiskus Xaverius Dolo, M.Pd., dosen Pendidikan IPA.
Sebanyak 20 pemuda yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Desa Beiwali, di bawah kepemimpinan Yoseph Eduardus Nono, menjadi mitra utama program tersebut.
Baca Juga:
Tabrak Lari Aiptu Asep, Mahasiswa 20 Tahun Ditetapkan sebagai Tersangka
Bagi tim pengabdian, persoalan sampah di desa tidak cukup dijawab dengan mengumpulkan dan membuangnya. Sampah harus dikelola agar memiliki nilai guna dan, bila memungkinkan, mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Di sinilah peran pemuda menjadi kunci.
Para pemuda tidak hanya diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dibekali keterampilan untuk mengubah limbah menjadi produk yang dapat digunakan.