Ngada-NTT.WahanaNews.co| Festival Komodo Riung 2026 resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Namun, penutupan festival bukan menjadi akhir, melainkan awal untuk memperkuat konservasi, pariwisata, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan Festival Komodo Riung 2026, Kamis (13/8/2026). Festival yang mengangkat kekayaan alam dan budaya Riung tersebut diharapkan dapat terus digelar secara berkelanjutan dan berkembang menjadi salah satu event unggulan pariwisata nasional.
Baca Juga:
Dari Senayan ke Sawah Ngada: Ahmad Yohan Kembali Bawa Alsintan, Petani Dapat Traktor hingga Rice Transplanter
Mewakili Bupati Ngada, Asisten II Setda Ngada sekaligus Ketua STIPER Flores Bajawa, Nicolaus Noywuli, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan festival.
Menurutnya, Festival Komodo Riung merupakan implementasi tata kelola baru dalam pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem dengan semangat “Membangun Desa, Menata Kota.”
Baca Juga:
Loka Tua Mata Api Diluncurkan, Ngada Bangkit Menjaga “Sabda Leluhur” di Tengah Gempuran Zaman
“Kita semua telah terlibat merencanakan bersama, melaksanakan bersama dan menyelesaikan bersama,” ujar Nicolaus.
Ia menegaskan, keberhasilan festival tidak hanya diukur dari rangkaian acara, tetapi terutama dari kekuatan kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, aparat keamanan, tokoh adat, pemuda hingga pelaku pariwisata.
Nicolaus mengakui pelaksanaan festival masih memiliki kekurangan. Namun, menurutnya, kekurangan tersebut tidak boleh mengalahkan semangat kebersamaan yang telah terbangun.