Sejumlah tokoh penting turut hadir memberi dukungan, mulai dari Ketua DPRD Ngada, Camat Aimere, Kepala Desa Aimere Timur, Kepala Desa Waesae, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) seperti Alo Sel dan Primus, hingga tokoh-tokoh petani progresif seperti Nober Tay, Martinus Rawi, dan Ananias Loma.
Bhogipole kini tak lagi hanya dikenal sebagai kawasan lahan kering, tetapi mulai dilihat sebagai titik tumbuh baru pertanian rakyat. Infrastruktur dasar yang dibangun secara swadaya perlahan memperkuat geliat ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
Baca Juga:
PLN dan Pelestarian Lingkungan: Langkah Dukung Kualitas Hidup Manusia
Tak berhenti pada penghijauan dan pengembangan tanaman buah, Kelompok Tani Solidaritas juga bergerak cepat menghadapi ancaman hama kumbang badak atau Oryctes yang menyerang tanaman kelapa warga.
Sebanyak 51 pohon kelapa mendapat penanganan serius menggunakan insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran (Furadan 3 GR) dengan dosis 10 gram per pohon yang diaplikasikan langsung pada pucuk muda tanaman.
Baca Juga:
PLN Siap Jadi Agen Perubahan dalam Pelestarian Lingkungan Indonesia
Langkah cepat tersebut dilakukan karena tingkat serangan hama dinilai cukup tinggi dan berpotensi menekan produktivitas tanaman masyarakat jika tidak segera dikendalikan.
Kegiatan pengendalian hama dipusatkan di area perkebunan Kelompok Tani Solidaritas Kajudulu-Bhogipole di kawasan Kebun Paroki Aimere.
Kehadiran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, penyuluh pertanian hingga para tokoh petani menjadi bukti bahwa membangun pertanian tidak bisa dikerjakan sendiri. Dibutuhkan solidaritas, konsistensi, dan keberanian untuk bergerak bersama.