Ngada-NTT.WahanaNews.co| Tak ada yang menyangka, hamparan lahan tidur di kawasan Bhogipole-Kajudulu yang dulu dianggap tak bernilai, kini perlahan menjelma menjadi kawasan pertanian produktif yang menghidupkan harapan baru masyarakat.
Di balik perubahan itu, berdiri kuat semangat kolektif warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Solidaritas di bawah kepemimpinan Martinus Madha. Dengan tekad dan kerja gotong royong, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
Baca Juga:
PLN dan Pelestarian Lingkungan: Langkah Dukung Kualitas Hidup Manusia
Lahan tandus yang sebelumnya terbengkalai kini mulai dipenuhi tanaman produktif seperti alpukat, rambutan, kelengkeng hingga pete. Gerakan ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, melainkan simbol kebangkitan ekonomi masyarakat dari akar rumput.
“Lahan boleh tandus, tetapi pikiran tidak boleh tandus. Lahan boleh tidur, tetapi manusianya tidak boleh ikut tidur,” menjadi spirit yang terus dihidupkan dalam setiap gerakan swadaya di kawasan tersebut.
Baca Juga:
PLN Siap Jadi Agen Perubahan dalam Pelestarian Lingkungan Indonesia
Semangat itu kembali terlihat dalam pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kelompok Tani Solidaritas yang digelar Kamis, 7 Mei 2026, langsung di area perkebunan anggota kelompok di Bhogipole. RAT kali ini tak sekadar agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi gerakan membangun pertanian rakyat berbasis kerja bersama.
Kegiatan diawali dengan aksi penanaman bibit buah-buahan sebagai simbol komitmen menjaga produktivitas lahan sekaligus investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
Sejumlah tokoh penting turut hadir memberi dukungan, mulai dari Ketua DPRD Ngada, Camat Aimere, Kepala Desa Aimere Timur, Kepala Desa Waesae, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) seperti Alo Sel dan Primus, hingga tokoh-tokoh petani progresif seperti Nober Tay, Martinus Rawi, dan Ananias Loma.
Bhogipole kini tak lagi hanya dikenal sebagai kawasan lahan kering, tetapi mulai dilihat sebagai titik tumbuh baru pertanian rakyat. Infrastruktur dasar yang dibangun secara swadaya perlahan memperkuat geliat ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
Tak berhenti pada penghijauan dan pengembangan tanaman buah, Kelompok Tani Solidaritas juga bergerak cepat menghadapi ancaman hama kumbang badak atau Oryctes yang menyerang tanaman kelapa warga.
Sebanyak 51 pohon kelapa mendapat penanganan serius menggunakan insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran (Furadan 3 GR) dengan dosis 10 gram per pohon yang diaplikasikan langsung pada pucuk muda tanaman.
Langkah cepat tersebut dilakukan karena tingkat serangan hama dinilai cukup tinggi dan berpotensi menekan produktivitas tanaman masyarakat jika tidak segera dikendalikan.
Kegiatan pengendalian hama dipusatkan di area perkebunan Kelompok Tani Solidaritas Kajudulu-Bhogipole di kawasan Kebun Paroki Aimere.
Kehadiran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, penyuluh pertanian hingga para tokoh petani menjadi bukti bahwa membangun pertanian tidak bisa dikerjakan sendiri. Dibutuhkan solidaritas, konsistensi, dan keberanian untuk bergerak bersama.
Dari Bhogipole, masyarakat sedang mengirim pesan keras bahwa di tengah efisiensi anggaran dan berbagai keterbatasan, semangat gotong royong dan swadaya rakyat tetap hidup—bahkan tumbuh semakin kuat. [frs]