a. Robi Idong menyatakan Menara Lonceng adalah proyek Masyarakat dan Keuskupan Maumere, tetapi Masyarakat atau Uskup Maumere tidak pernah dilibatkan dalam Perencanaan, Penganggaran, Kepanitian, Arsitektur, Kontraktor dll.
b. Robi Idong menyatakan yang akan membangun adalah Keluarga Besar Tionghoa yang ada di Maumere, tetapi ketika meletakan batu pertama Robi Idong bertindak one man show, dia Bupati, dia Pekerja Proyek, dia Pantia Pelaksana, dia Peminta Sumbangan dll.
Baca Juga:
Usung Tema Budaya Lokal, Paket ROMANTIS Gelar Kampanye Akbar, Ajak Masyarakat Sikka Berpolitik Santun
c. Anggaran pembangunan Menara Lonceng tidak masuk dalam APBD, tetapi Robi Idong menjanjikan akan dibiayai oleh APBD.
d. Robi Idong menyatakan besok akan mengadakan Rapat Panitia Pelaksanaan Pembangunan Menara Lonceng, padahal Panitianya menurut Very Awales belum dibentuk (sedang disiapkan SK Pembentukannya).
Beberapa kebohongan dan tipu muslihat Robi Idong secara berlanjut, membuktikan bahwa pembangunan Menara Lonceng Santo Yohanes Paulus II di Sikka, tidak direncanakan secara matang dan secara bersama-sama dengan pihak Keuskupan Maumere bahkan telah dimanipulasi dan dilandasi Itikad Buruk Robi Idong.
Baca Juga:
Tak Disangka, Robi Idong Mampu Dongkrak IPM Kabupaten Sikka Jadi Terbaik Kedua di NTT
Tidak adanya kejelasan sumber dana dan penganggarannya, serta tidak ada kejelasan apakah proyek ini milik Pemda Sikka atau proyek milik Masyarakat Maumere Cq. Keuskupan Maumere, malah muncul penjelasan berbeda antara Very Awales dengan Robi Idong, membuat publik Sikka bertanya-tanya siapa yang berbohong di antara keduanya.
Belum Jelas, Sudah Minta Sumbangan