Langkah ini menjadi strategi “jemput bola” agar implementasi visi dan misi kepemimpinan RB-BDN bisa terealisasi dengan baik sesuai janji-janji politik mereka.
“Kalau menunggu anggaran daerah, tentu tidak cukup. Tapi kalau kita aktif berkomunikasi dan menyodorkan data serta perencanaan yang jelas, pasti pihak-pihak yang diajak kerja sama akan percaya,” ungkap Ray Bena ketika menyerahkan secara simbolis insentif para RT di Kecamatan Golewa, Kamis (30/10/25).
Baca Juga:
“Kontroversi” Sekda Ngada, Gubernur Tunjuk Penjabat, Bupati Lantik Defenitif
Menurut dia, pendekatan ini bukan sekadar diplomasi politik, tetapi taktik pembangunan berbasis kolaborasi lintas sektor.
Ray Bena menyadari, efisiensi bukan hanya soal memangkas pengeluaran, melainkan menata ulang prioritas agar setiap rupiah menghasilkan nilai pembangunan yang maksimal.
Ia mendorong aparatur di lingkungan Pemkab Ngada untuk mengubah pola pikir birokratis menjadi produktif dan kolaboratif.
Baca Juga:
Launching Galeri Investasi Digital BEI, Bupati Ngada: Jadikan STIPER FB Pusat Literasi dan Inkubasi Investor Baru
“Kita ingin efisiensi yang visioner. Bukan berhenti karena dana terbatas, tapi justru mencari cara baru agar pembangunan tetap jalan. Pemerintah daerah harus lincah dan kreatif,” tegasnya.
Dalam konteks ini, kata Ray Bena “MURNI-KASIH” mulai menunjukkan bentuknya: kebijakan berbasis efisiensi, keberanian diplomasi, dan kemitraan strategis.
