Sehari setelah rangkaian festival, Bupati Ngada Raymundus Bena bersama jajaran BBKSDA NTT juga melakukan kunjungan ke Pulau Ontoloe. Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat langsung habitat komodo, melakukan penanaman mangrove serta meninjau aktivitas usaha rumput laut masyarakat.
Rangkaian tersebut mempertegas bahwa Festival Komodo Riung diarahkan bukan sekadar menjadi pesta tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama yang menghubungkan konservasi, pariwisata, budaya dan ekonomi masyarakat.
Baca Juga:
Dari Senayan ke Sawah Ngada: Ahmad Yohan Kembali Bawa Alsintan, Petani Dapat Traktor hingga Rice Transplanter
Pihak penyelenggara bahkan menargetkan Festival Komodo Riung dapat berkembang menjadi event tahunan yang semakin profesional, atraktif dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Riung dan sekitarnya.
Tidak berhenti di tingkat daerah, Festival Komodo Riung juga didorong untuk masuk dalam kalender event nasional, sehingga Riung memiliki panggung lebih besar untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya kepada wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Baca Juga:
Loka Tua Mata Api Diluncurkan, Ngada Bangkit Menjaga “Sabda Leluhur” di Tengah Gempuran Zaman
“Event Festival Komodo Riung akan terus kita selenggarakan sebagai event tahunan dengan keyakinan semakin baik, semakin profesional dan beragam atraksi yang memberikan dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat Riung dan sekitar,” demikian pesan penyelenggara.
Dari Riung, sebuah pesan besar pun digaungkan: “Di Komodo tidak ada Riung, di Riung ada Komodo.”
Festival boleh ditutup, tetapi semangat menjaga komodo, merawat alam, menghidupkan budaya dan menggerakkan ekonomi masyarakat diharapkan terus menyala.
Ngada Bangkit, Ngada Lestari, dan Sejahtera. [frs]