“Tidak ada gading yang tidak retak. Fokus kita bukan pada retaknya, tetapi pada kekuatan dan nilai ketangguhan kolaborasi bersama ini,” katanya.
Baca Juga:
Dari Senayan ke Sawah Ngada: Ahmad Yohan Kembali Bawa Alsintan, Petani Dapat Traktor hingga Rice Transplanter
Salah satu dampak langsung festival terlihat dari keterlibatan pelaku usaha lokal. Hingga penutupan, tercatat 36 UMKM ikut memasarkan berbagai produk, mulai dari kain, kuliner hingga kerajinan.
Kehadiran ribuan pengunjung selama festival turut memberikan dampak terhadap peningkatan omzet para pelaku UMKM.
“Selama festival, 36 UMKM memasarkan produknya dan omzetnya bertambah banyak,” ungkap Nicolaus.
Baca Juga:
Loka Tua Mata Api Diluncurkan, Ngada Bangkit Menjaga “Sabda Leluhur” di Tengah Gempuran Zaman
Menurutnya, kondisi ini menjadi bukti bahwa Festival Komodo Riung tidak hanya berbicara tentang konservasi komodo dan promosi destinasi wisata, tetapi juga mulai membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Festival juga menjadi momentum memperkenalkan potensi Riung yang memiliki kekayaan alam, budaya dan sumber ekonomi masyarakat.
“Kita bersyukur memiliki kekayaan, di antaranya komodo, alam, budaya dan usaha ekonomi. Karena itu kita selenggarakan Festival Komodo Riung ini,” katanya.