Nyala api menerangi malam. Diiringi musik dan pertunjukan seni, masyarakat dari berbagai wilayah larut dalam kemeriahan Festival Komodo Riung 2026.
Tetapi di balik pesta rakyat tersebut, tersimpan pesan yang jauh lebih besar.
Baca Juga:
Wabup Ngada Resmikan SMPS Matago Christian College, Babak Baru Pendidikan Pedesaan Dimulai: Sekolah Berasrama Hadir untuk Anak-Anak Pelosok
Api unggun menjadi simbol semangat untuk menjaga alam Riung tetap hidup.
Festival tidak hanya mengangkat komodo sebagai satwa endemik, tetapi juga mempertemukan konservasi dengan budaya, pariwisata, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi lokal.
Baca Juga:
Murni Kasih, Jejak RB–BDN Membangun Generasi Emas Ngada: Tak Ada Anak yang Tertinggal karena Kemiskinan
Pesannya jelas: konservasi tidak boleh berhenti sebagai slogan. Masyarakat harus menjadi bagian dari upaya menjaga alam sekaligus memperoleh manfaat dari pariwisata yang tumbuh secara berkelanjutan.
Riung memiliki modal besar. Alam yang indah, komodo, kawasan konservasi, budaya masyarakat, sejarah, dan panorama pesisir menjadi satu kesatuan kekuatan wisata.
Karena itu, Festival Komodo Riung 2026 menjadi momentum untuk mengubah kekayaan tersebut menjadi gerakan bersama.