Program ini dinilai tidak strategis karena banyak anak sekolah di desa-desa yang sangat membutuhkan pelayanan makanan bergizi justru belum tersentuh.
Sebagian masyarakat desa justru tidak terlibat secara langsung sebagai penyedia bahan baku bagi kebutuhan dapur MBG tersebut. Bahkan, sebagian besar bahan makanan didatangkan dari luar daerah Flores.
Baca Juga:
Aparat penegak hukum diminta Tindak Kontraktor Pembangunan Oprit Jembatan Desa Teluk Kayu Putih kabuputen Tebo
Demikianpun terhadap program Koperasi Desa/Lurah Merah Putih. Para tokoh masyarakat menilai program ini berakibat langsun pada terhentinya pelayanan pembangunan di desa dan berdampak pada sepinya dunia perekonomian karena menurunnya pendapatan masyarakat dan semakin rendahnya daya beli masyarakat desa.
Hal ini diakibatkan oleh rendahnya penyerapan tenaga kerja di desa oleh terhentinya aktivitas pembangunan di desa yang sebelumnya dialami sangat maksimal oleh penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja desa (APBDes) yang memadai.
Baca Juga:
Rangkum Aspirasi Hasil Reses, Faisal Sebut Infratruktur Masih Jadi ’PR’ Besar
Proses Dialektika
Reses yang berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam ini dilaksanakan pada Selasa (17/3/26) di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo yang dihadiri, Camat Boawae, Pastor Paroki Santo Yosef Raja, para tokoh masyarakat serta umat paroki Santo Yosef Raja.
Polce Lobo, sapaan akrab bagi anggota Fraksi gabungan Perindo-Hanura ini, menilai beberapa program nasional seperti Makanan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa/Lurah Merah Putih belum sepenuhnya dirasakan manfaat oleh masyarakat di daerah.