WahanaNews-Labuanbajo | Banyak wisatawan dari mancanegara yang tertarik mengunjungi Labuan Bajo dikarenakan alamnya yang memukau dan keberadaan hewan langka Komodo.
Namun, untuk menjelajah destinasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut wisatawan perlu merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya, infrastruktur pendukung pariwisata seperti transportasi dan perhotelan di Labuan Bajo belum sebanyak dan selengkap destinasi pariwisata yang sudah matang seperti halnya Bali.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Belakangan, mahalnya tarif hotel di Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo menjadi perbincangan di kalangan wisatawan.
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sebagai satuan tugas di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun memberikan penjelasan terkait hal tersebut.
Direktur Utama BPOLBF Shana Fatina mengatakan, pihaknya bersama Pemerintah Daerah (Pemda) dan stakeholder terkait terus melakukan evaluasi.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
“Kami sedang terus berupaya untuk meningkatkan kualitas hotel yang ada di Labuan Bajo agar dapat memenuhi standar pelayanan sesuai dengan kelasnya,” kata Shana, dikutip Sabtu (5/3/2022).
Menanggapi berbagai isu yang berkembang termasuk perbandingan dengan kondisi di Bali di mana harga hotel di Pulau Dewata cenderung turun harga, namun di Labuan Bajo justru stabil bahkan cenderung mahal, Shana menegaskan bahwa ada perbedaan standar biaya operasional antar wilayah.
Menurut dia, biaya operasional hotel di Labuan Bajo memang lebih tinggi karena masih banyak produk atau material pendukung yang diambil atau harus didatangkan dari daerah lain.