Ngada-NTT.WahanaNews.co| Pasca dibentukya Forum Konservasi Mbou (Komodo) dan Spesies Penting Lainnya di dalam dan di luar Kawasan Hutan sesuai Keputusan Bupati Ngada Nomor: 359/KEP/HK/2025 tanggal 10 Juli 2025, Pemda Ngada berkomitmen memperkuat penyelenggaraan konservasi berkelanjutan terhadap aset ekologis yang ada diwilayah Kabupaten Ngada.
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu “BDN” dalam sambutannya ketika membuka Rapat Koordinasi tahap 2 Forum Konservasi Mbou (Komodo) dan Spesies Penting Lainnya di dalam dan di luar Kawasan Hutan, Kamis (30/4/26) menegaskan pentingnya semangat kemitraan demi mewujudkan keseimbangan antara konservasi keanekaragaman hayati, keberlanjutan sumber daya alam dan pembangunan ekonomi lokal yang berkeadilan bagi kesejahteraan masyarakat di Flores.
Baca Juga:
Lonjakan NIB Investor, Pemda Ngada Sukses Dongkrak Nilai Investasi 2025
BDN menjelaskan, Kabupaten Ngada merupakan salah satu wilayah di kawasan pulau Flores yang menyimpan nilai konservasi global khususnya terhadap keberadaan Komodo Dragon sebagai spesies flagship, spesies endemik lain, terumbu karang, mangrove dan sumber daya laut sebagai potensi ekologis yang patut mendapat perhatian serius oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat beserta unsur-unsur terkait lainnya.
Secara faktual kawasan potensi ekologis ini lanjut BDN, selain bernilai konservasi, sekaligus menjadi ruang hidup ribuan masyarakat yang menggantungkan diri pada perikanan, pariwisata, dan pertanian.
Tekanan ekologis seperti degradasi habitat, penangkapan ikan berlebih/destruktif, limbah pariwisata, perubahan iklim ditambah dengan kelemahan tata kelola lintas sektor dan keterbatasan alternatif ekonomi, dapat memberikan dampak buruk terhadap keberadaan ekosistem yang ada di kawasan tersebut, serta menyulitkan upaya konservasi yang berkelanjutan, tandasnya.
Baca Juga:
Kunker Perdana di Ngada, Menteri P3A RI Tinjau Rumah Aman Bajawa
Pemkab Ngada kata BDN, sangat menyadari akan kemanfaatan potensi ekologis terutama Komodo Dragon sebagai spesies flagship yang dalam budaya lokal disebut MBOU. Keberadaannya lanjut dia, telah memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat melalui sektor pariwisata.
Namun disisi lain, pemanfaatan terhadap potensi ekologi bagi kepentingan kultural-sosial-ekonomi, secara bertahap dapat memberikan dampak buruk bagi keberlangsungan ekosistem potensi ekologis itu sendiri.
Sebuah Keharusan
Lebih lanjut BDN mengatakan, Pemkab Ngada menyadari sepenuhnya bahwa konservasi berkelanjutan terhadap berbagai potensi ekologis adalah sebuah kaharusan, sehingga melalui berbagai forum terus memberikan atensi bagi keberlangsungan ekologis dikarenakan keunikan hayati berupa spesies Mbou beserta spesies endemik lain merupakan aset berharga bagi Kabupaten Ngada khususnya dan Flores umumnya.
Visi Kabupaten Ngada, Terwujudnya Ngada yang Unggul, Mandiri dan Berbudaya, Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan mencerminkan bentuk komitmen Pemda Ngada untuk melaksanakan pembangunan secara berkualitas serta bersinergi dengan masyarakat dan lembaga terkait dalam hal memastikan koordinasi, legitimasi, dan keberlanjutan intevensi, salah satunya terkait keberlangsungan ekologis, pungkasnya.
Melalui Misi pertama yakni lanjut BDN, mendorong percepatan peningkatan daya saing ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pertanian, agroindustri, koperasi dan pariwisata berbasis pedesaan yang inklusif dan berwawasan lingkungan, Pemda Ngada mau menegaskan bahwa percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah senantiasa berbasis inklusif dan berkelanjutan, tegas dia.
Memastikan Keberlanjutan Melalui Tindakan Nyata
BDN menambahkan, isu vocal point dalam setiap tindakan pembangunan yang dieselenggarakan oleh Pemda Ngada termasuk didalamnya adalah memastikan keberlanjutan potensi ekologis melalui tindakan nyata berupa penetapan regulasi dan penegakan hukum, pembangunan infrastruktur lingkungan, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, mendorong inovasi dan ekonomi berkelanjutan serta pembentukan kawasan konservasi.
Tindakan ini diambil sebagai langkah intervensi dalam menyikapi kondisi eksisting dimana;
Pertama, ketergantungan masyarakat pada sumber daya alam yakni sebagian besar pesisir dan pulau kecil menggantungkan penghidupan pada perikanan, pariwisata lokal, dan pertanian subsisten yang membuat mereka rentan terhadap perubahan ekologi dan kebijakan yang tidak partisipatif.
Kedua, struktur sosial adat dimana hak dan aturan adat memainkan peran penting dalam pengelolaan sumber daya lokal. Pengakuan dan keterlibatan masyarakat adat adalah aspek kunci untuk legitimasi intervensi.
Ketiga, kesenjangan ekonomi dan alternatif penghidupan yakni keterbatasan alternatif pendapatan mendorong praktik yang memberi tekana pada sumber daya sehingga program livelihood berupa aktivitas ekonomi berbasis karakteristik sosial budaya yang relevan dan inklusif perlu diinetgrasikan dengan kegiatan konservasi.
“Pemerintah Kabupaten Ngada memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang sudah terlibat sejak awal forum ini terbentuk. Saya berharap rapat ini bisa menghasilkan pemahaman, kerja sama dan kesepakatan bersama sebagai tindak lanjut dari rapat sebelumnya,” tutup BDN. [frs]