“Artinya, di sini musik, sastra, syair-syair dari bahasa daerah, motif, tarian itu semua akan berbicara tentang kekuatan sastra,” jelasnya.
Baca Juga:
Bupati Toba Sebut Berupaya Kembangkan Makam Nommensen jadi Wisata Rohani
Kehadiran KKBN Loka Tua Mata Api menjadi penanda munculnya ruang baru bagi kajian dan pelestarian budaya Ngada yang melibatkan berbagai elemen.
Komunitas ini telah memiliki akta notaris sebagai komunitas budaya dan ke depan diharapkan mampu menjadi jembatan antara pengetahuan leluhur dengan kebutuhan generasi masa kini.
Launching tersebut turut dihadiri akademisi, peneliti, pemerhati budaya, pemangku kepentingan serta diaspora Ngada, baik secara langsung maupun melalui jaringan daring.
Baca Juga:
Peringatan 125 Tahun Syahid Teuku Umar: Napak Tilas di Aceh Barat
Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar bukan sekadar menjaga rumah adat, bahasa, tarian, motif atau ritual tetap ada.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan nilai dan pesan yang diwariskan para leluhur tetap dipahami dan hidup dalam diri generasi Ngada.
Loka Tua Mata Api hadir membawa misi itu: menggali ingatan, membaca kembali sabda leluhur, dan membawa kebudayaan Ngada tetap hidup di masa depan. [frs]