Menurut Bupati, kemajuan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi budaya.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen baru untuk memperkuat gerakan pelestarian, memperluas dokumentasi, sekaligus memperkenalkan kebudayaan Ngada kepada masyarakat yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua KKBN Loka Tua Mata Api, P. Feliks Baghi, SVD, mengatakan komunitas tersebut tidak dibentuk sekadar sebagai wadah diskusi kebudayaan.
Baca Juga:
Bupati Toba Sebut Berupaya Kembangkan Makam Nommensen jadi Wisata Rohani
Loka Tua Mata Api dirancang menjadi ruang bersama atau “bengkel budaya”, tempat pemerintah, akademisi, peneliti, masyarakat, pemerhati budaya hingga diaspora Ngada dapat bertemu dan bekerja bersama.
“Komunitas ini akan menjadi sekolah ingatan sukarela, melatih kecerdasan kultural dengan memori yang mendalam,” ujar P. Feliks.
Menurutnya, ingatan kolektif masyarakat terhadap budaya merupakan kekuatan penting dalam mempertahankan identitas Ngada.
Baca Juga:
Peringatan 125 Tahun Syahid Teuku Umar: Napak Tilas di Aceh Barat
Karena itu, kebudayaan tidak hanya perlu dipelajari dari buku atau artefak, tetapi juga melalui pengalaman, bahasa, sastra, seni, tradisi dan ingatan yang hidup di tengah masyarakat.
Loka Tua Mata Api juga diproyeksikan menjadi sanggar sastra Ngada, yang memberi ruang bagi tumbuhnya karya dan ekspresi budaya lokal.
P. Feliks menyebut komunitas tersebut akan menjadi “sanggar poetik mata api”, sebuah ruang tempat musik, sastra, syair dalam bahasa daerah, motif, tarian dan berbagai ekspresi budaya lainnya dapat kembali menemukan ruang hidupnya.