Ngada-NTT.WahanaNews.co| Kebudayaan Ngada didorong untuk tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus teknologi, nilai-nilai leluhur justru dinilai harus menjadi fondasi pembangunan sekaligus kekuatan identitas generasi masa depan.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Launching Komunitas Kajian Budaya Ngada (KKBN) Loka Tua Mata Api, yang digelar di Kemah Tabor, Mataloko, Minggu (9/8/2026).
Baca Juga:
Bupati Toba Sebut Berupaya Kembangkan Makam Nommensen jadi Wisata Rohani
Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan dukungan terhadap kehadiran komunitas tersebut sebagai bagian dari gerakan bersama untuk mengkaji, mendokumentasikan, sekaligus melestarikan kekayaan budaya Ngada.
Bupati Ngada Raymundus Bena dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Setda Ngada, Nikolaus Noywuli, menyambut baik kehadiran Loka Tua Mata Api.
Baca Juga:
Peringatan 125 Tahun Syahid Teuku Umar: Napak Tilas di Aceh Barat
Menurut Bupati, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga benda-benda peninggalan leluhur. Yang jauh lebih penting adalah menggali dan mempertahankan makna, nilai serta pesan yang terkandung di balik warisan budaya tersebut.
“Saya menyambut baik kehadiran komunitas budaya Loka Tua Mata Api sebagai bagian dari upaya bersama menjaga dan melestarikan budaya Ngada, tidak hanya benda-benda budaya, tetapi makna dari budaya itu sendiri,” ujar Bupati.
Raymundus menegaskan, budaya merupakan akar peradaban masyarakat Ngada. Karena itu, budaya tidak boleh ditempatkan sebatas simbol atau nostalgia masa lampau.
Budaya harus tetap hidup, dipahami, dan menjadi pedoman bagi generasi penerus.
“Nilai-nilai budaya harus menjadi napas dan spirit pembangunan daerah,” tegasnya.
Bupati juga melihat kehadiran Loka Tua Mata Api sebagai gagasan penting untuk menggali kembali inti dan pesan tersembunyi dalam kebudayaan Ngada yang diwariskan melalui sabda para leluhur.
“Kehadiran komunitas ini merupakan gagasan penting dalam upaya menemukan dan mengontekstualkan inti tersembunyi budaya Ngada yang hidup dalam sabda leluhur,” tambahnya.
Dari Tradisi ke Era Digital
Pemkab Ngada berharap berbagai hasil kajian yang dilakukan komunitas tersebut tidak berhenti pada ruang diskusi. Pengetahuan dan kekayaan budaya yang ditemukan harus didokumentasikan secara sistematis dan didigitalisasikan.
Langkah tersebut dinilai penting agar pengetahuan mengenai budaya Ngada tidak hilang ditelan zaman dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut Bupati, kemajuan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi budaya.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen baru untuk memperkuat gerakan pelestarian, memperluas dokumentasi, sekaligus memperkenalkan kebudayaan Ngada kepada masyarakat yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua KKBN Loka Tua Mata Api, P. Feliks Baghi, SVD, mengatakan komunitas tersebut tidak dibentuk sekadar sebagai wadah diskusi kebudayaan.
Loka Tua Mata Api dirancang menjadi ruang bersama atau “bengkel budaya”, tempat pemerintah, akademisi, peneliti, masyarakat, pemerhati budaya hingga diaspora Ngada dapat bertemu dan bekerja bersama.
“Komunitas ini akan menjadi sekolah ingatan sukarela, melatih kecerdasan kultural dengan memori yang mendalam,” ujar P. Feliks.
Menurutnya, ingatan kolektif masyarakat terhadap budaya merupakan kekuatan penting dalam mempertahankan identitas Ngada.
Karena itu, kebudayaan tidak hanya perlu dipelajari dari buku atau artefak, tetapi juga melalui pengalaman, bahasa, sastra, seni, tradisi dan ingatan yang hidup di tengah masyarakat.
Loka Tua Mata Api juga diproyeksikan menjadi sanggar sastra Ngada, yang memberi ruang bagi tumbuhnya karya dan ekspresi budaya lokal.
P. Feliks menyebut komunitas tersebut akan menjadi “sanggar poetik mata api”, sebuah ruang tempat musik, sastra, syair dalam bahasa daerah, motif, tarian dan berbagai ekspresi budaya lainnya dapat kembali menemukan ruang hidupnya.
“Artinya, di sini musik, sastra, syair-syair dari bahasa daerah, motif, tarian itu semua akan berbicara tentang kekuatan sastra,” jelasnya.
Kehadiran KKBN Loka Tua Mata Api menjadi penanda munculnya ruang baru bagi kajian dan pelestarian budaya Ngada yang melibatkan berbagai elemen.
Komunitas ini telah memiliki akta notaris sebagai komunitas budaya dan ke depan diharapkan mampu menjadi jembatan antara pengetahuan leluhur dengan kebutuhan generasi masa kini.
Launching tersebut turut dihadiri akademisi, peneliti, pemerhati budaya, pemangku kepentingan serta diaspora Ngada, baik secara langsung maupun melalui jaringan daring.
Di tengah perubahan zaman, tantangan terbesar bukan sekadar menjaga rumah adat, bahasa, tarian, motif atau ritual tetap ada.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan nilai dan pesan yang diwariskan para leluhur tetap dipahami dan hidup dalam diri generasi Ngada.
Loka Tua Mata Api hadir membawa misi itu: menggali ingatan, membaca kembali sabda leluhur, dan membawa kebudayaan Ngada tetap hidup di masa depan. [frs]