Ngada-NTT.WahanaNews.co| Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Ngada terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat.
Kali ini, Pemerintah Desa Beapawe, Kecamatan Golewa Barat, mengambil langkah nyata dengan menghimpun komoditi unggulan hortikultura untuk disalurkan kepada masyarakat yang masih berada di sejumlah posko pengungsian.
Baca Juga:
Taspen Gerak Cepat, 5 Genset dan Ratusan Paket Sembako Dikirim untuk Korban Gempa Ngada
Bantuan kemanusiaan tersebut merupakan hasil kebersamaan seluruh perangkat Pemerintah Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Beapawe.
Pada gelombang pertama, distribusi bantuan difokuskan bagi warga terdampak gempa di wilayah Kabupaten Ngada, khususnya masyarakat yang berada di posko-posko pengungsian di Kecamatan Riung.
Kepala Desa Beapawe, No Killa, mengatakan gerakan kemanusiaan tersebut lahir dari rasa kepedulian bersama terhadap saudara-saudara yang tengah menghadapi masa sulit akibat bencana gempa bumi.
Baca Juga:
Gempa Ngada Guncang 12 Kecamatan: 2.905 Rumah Terdampak, 1.333 Warga Mengungsi
“Hari ini kami dari Desa Beapawe dengan komoditi unggulan yakni hortikultura, yang kami himpun dari seluruh perangkat dan BPD untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa,” ujar No Killa kepada media ini, Rabu (19/8/2026), di halaman Posko Bantuan Kabupaten Ngada.
Menurutnya, Desa Beapawe memiliki potensi komoditi hortikultura yang selama ini menjadi salah satu sektor unggulan masyarakat.
Potensi tersebut kemudian dihimpun bersama sebagai bentuk kontribusi nyata desa untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa.
No menegaskan, bantuan yang dibawa bukan semata soal jumlah dan jenis komoditi yang disalurkan, tetapi menjadi wujud solidaritas masyarakat Desa Beapawe terhadap warga yang sedang bertahan di tengah situasi pascabencana.
Pada tahap awal, kata dia, bantuan tersebut diprioritaskan untuk sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Riung.
Wilayah tersebut menjadi sasaran pertama dalam gerakan distribusi bantuan kemanusiaan yang digagas Pemerintah Desa Beapawe bersama perangkat desa dan BPD.
“Untuk gelombang pertama ini kami distribusikan di wilayah Kabupaten Ngada, khususnya di Kecamatan Riung. Fokus kami adalah membantu saudara-saudara yang saat ini masih berada di posko-posko pengungsian,” katanya.
Pria yang akrab disapa No itu menjelaskan, aksi kemanusiaan tersebut merupakan langkah pertama yang dilakukan Desa Beapawe sejak gempa melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ngada.
Namun demikian, gerakan solidaritas itu dipastikan tidak berhenti pada distribusi bantuan pertama.
Pemerintah Desa Beapawe telah menyiapkan rencana untuk kembali menghimpun dan menyalurkan bantuan pada gelombang berikutnya dengan jangkauan sasaran yang lebih luas.
“Ini merupakan yang pertama kali kami lakukan pascagempa. Untuk gelombang berikutnya, kami akan berupaya mendistribusikan bantuan juga ke kabupaten lain yang terdampak,” ungkapnya.
Selain Kecamatan Riung, Pemerintah Desa Beapawe juga telah menyiapkan sasaran distribusi bantuan berikutnya. Salah satu wilayah yang direncanakan menerima bantuan adalah Desa Uluwae, Kecamatan Bajawa Utara, yang juga terdampak gempa.
No berharap bantuan yang diberikan melalui hasil swadaya dan kebersamaan tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama warga yang hingga kini masih berada di tempat-tempat pengungsian.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam aksi kemanusiaan tersebut. Potensi yang dimiliki desa, kata dia, harus dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.
“Yang paling penting bagi kami adalah kepedulian. Apa yang menjadi potensi Desa Beapawe, khususnya komoditi hortikultura, kami coba himpun bersama untuk dibagikan kepada saudara-saudara kita yang terdampak,” pungkasnya.
Gerakan kemanusiaan dari Desa Beapawe ini menambah deretan aksi solidaritas yang terus tumbuh di tengah masyarakat Ngada pascagempa.
Dari desa, semangat gotong royong kembali bergerak, membawa hasil bumi sebagai simbol kepedulian dan kebersamaan bagi warga yang sedang bertahan di tengah situasi pascabencana. [frs]