Boy Zanda, guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbingnya, mengungkapkan bahwa perubahan Mauren tidak terjadi dalam semalam.
“Awalnya dia pemalu, bahkan saat latihan sering tidak konsisten. Tapi perlahan dia berubah,” ungkapnya.
Baca Juga:
Dr. Susanti Dewayani, Menyerahkan Speaker untuk Perwiritan Senin Majelis Taklim Al-Barokah
Perubahan itu mencapai puncaknya saat kompetisi berlangsung. Menurut Boy, Mauren tampil seperti pribadi baru—lebih matang, disiplin, dan sulit digoyahkan.
“Dia seperti baja. Cara berpikirnya dewasa, mendengarkan dengan baik, dan tampil elegan. Dari penyisihan sampai final, kapasitasnya terus naik,” tambahnya.
Ajang ini tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Ngada untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi.
Baca Juga:
Raja Sondang Simarmata, Alumni SDN 22 Beri Bantuan Speaker
Kehadiran Mauren sebagai Best Speaker menjadi bukti bahwa pelajar daerah mampu bersaing dan bersinar.
Ketika lomba usai dan ruangan kembali sunyi, gema prestasi itu masih terasa. Mauren telah meninggalkan jejak—bahwa suara anak muda bisa lantang, cerdas, dan bermakna.
Langkahnya mungkin dimulai dari panggung kecil di Ngada. Namun dari sanalah, mimpi besar sedang disusun—perlahan, pasti, dan penuh keyakinan. [frs]