Ngada-NTT.WahanaNews.co| Riuh tepuk tangan memecah ruangan saat nama Andra Maurensia Guwa Rodja diumumkan sebagai Best Speaker dalam lomba debat tingkat SMA di Kabupaten Ngada. Di tengah sorak sorai itu, ia berdiri dengan wajah tenang—namun sorot matanya menyimpan haru dan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.
Momen itu bukan sekadar kemenangan. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang yang ditempa oleh latihan, kegigihan, dan keberanian untuk melampaui batas diri.
Baca Juga:
Dr. Susanti Dewayani, Menyerahkan Speaker untuk Perwiritan Senin Majelis Taklim Al-Barokah
Lomba debat yang diikuti puluhan pelajar dari berbagai SMA di Ngada menjadi arena adu gagasan dan ketajaman logika. Setiap peserta dituntut berpikir cepat, berbicara runtut, dan mempertahankan argumen di bawah tekanan. Di tengah persaingan ketat itu, Mauren—sapaan akrab Andra Maurensia—tampil berbeda.
Sejak babak penyisihan, siswi SMAK Regina Pacis Bajawa ini sudah menunjukkan kualitasnya. Ia tidak hanya berbicara, tetapi merangkai gagasan dengan alur yang jelas, menyanggah lawan dengan elegan, dan menjaga wibawa di atas panggung. Ketika peserta lain mulai goyah, Mauren justru semakin tajam dan terukur.
“Debat bukan hanya soal menang atau kalah, tapi bagaimana kita bisa menyampaikan ide dengan jelas dan menghargai pendapat orang lain,” ujarnya sederhana, namun sarat makna.
Baca Juga:
Raja Sondang Simarmata, Alumni SDN 22 Beri Bantuan Speaker
Kalimat itu mencerminkan kedewasaan berpikir yang menjadi kekuatan utamanya. Para juri pun sepakat—Mauren layak menyandang predikat Best Speaker. Penilaian tidak hanya bertumpu pada isi argumen, tetapi juga cara penyampaian, ketenangan, dan kemampuan menghadapi tekanan.Mauren mampu meramu semuanya dengan seimbang.
Di balik panggung yang gemilang, ada proses yang tidak ringan. Ia mengaku telah mempersiapkan diri jauh hari: latihan rutin bersama tim, membaca isu-isu aktual, hingga membiasakan diri berbicara di depan umum. Dukungan dari guru dan teman-teman menjadi bahan bakar semangatnya.
Boy Zanda, guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbingnya, mengungkapkan bahwa perubahan Mauren tidak terjadi dalam semalam.
“Awalnya dia pemalu, bahkan saat latihan sering tidak konsisten. Tapi perlahan dia berubah,” ungkapnya.
Perubahan itu mencapai puncaknya saat kompetisi berlangsung. Menurut Boy, Mauren tampil seperti pribadi baru—lebih matang, disiplin, dan sulit digoyahkan.
“Dia seperti baja. Cara berpikirnya dewasa, mendengarkan dengan baik, dan tampil elegan. Dari penyisihan sampai final, kapasitasnya terus naik,” tambahnya.
Ajang ini tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Ngada untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi.
Kehadiran Mauren sebagai Best Speaker menjadi bukti bahwa pelajar daerah mampu bersaing dan bersinar.
Ketika lomba usai dan ruangan kembali sunyi, gema prestasi itu masih terasa. Mauren telah meninggalkan jejak—bahwa suara anak muda bisa lantang, cerdas, dan bermakna.
Langkahnya mungkin dimulai dari panggung kecil di Ngada. Namun dari sanalah, mimpi besar sedang disusun—perlahan, pasti, dan penuh keyakinan. [frs]