Menurut Paskalis, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa koperasi tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat.
“Pendirian koperasi ini adalah organisasi rohani dari gereja. Karena itu harus dihidupi, terutama bagaimana kita memiliki tanggung jawab dan keprihatinan terhadap orang-orang di sekitar kita,” ujarnya.
Baca Juga:
"SAG" Tak Penuhi Panggilan Klarifikasi Terkait Video Viral Diduga Hisap Sabu, Ini Penjelasan Polres Nias
Memasuki usia ke-40, Paskalis mengatakan Kopdit Karya Kasih tidak ingin hanya merayakan keberhasilan masa lalu.
Tantangan berikutnya adalah memastikan koperasi tetap relevan di tengah perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi dan kebutuhan ekonomi masyarakat yang semakin kompleks.
“Kami meyakini dengan modal yang ada, bagaimana koperasi ini bisa hidup terus ke depannya,” katanya.
Baca Juga:
Uang Simpanannya Gak Dicairkan, Nasabah Dirikan Tenda di Depan Kantor KSP3 Cabang Gunungsitoli
Menurut dia, penguatan aset tetap menjadi bagian dari agenda koperasi. Namun pertumbuhan aset tidak boleh menghilangkan tujuan awal pendirian koperasi, yakni membantu anggota dan masyarakat.
Empat puluh tahun perjalanan Kopdit Karya Kasih Langa akhirnya menjadi sebuah cerita tentang bagaimana gerakan kecil kaum ibu dengan modal hanya ratusan ribu rupiah mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dengan aset puluhan miliar rupiah.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar bertahan, melainkan memastikan warisan solidaritas tersebut tetap hidup di tengah generasi baru—dengan teknologi yang berkembang, kebutuhan anggota yang berubah, dan ancaman praktik rentenir yang masih membayangi masyarakat. [frs]