Di tengah kebutuhan modal usaha yang cepat dan mudah, masyarakat sering kali terjebak pada pinjaman dengan beban bunga yang tinggi. Karena itu, koperasi ingin menghadirkan alternatif pembiayaan yang lebih terjangkau sekaligus tetap berbasis pada keanggotaan.
Selain Kredit Usaha Anggota, Kopdit Karya Kasih juga memiliki layanan yang dinilai sangat relevan dengan karakter sosial dan budaya masyarakat Langa, yakni Pinjaman Hari Raya.
Baca Juga:
"SAG" Tak Penuhi Panggilan Klarifikasi Terkait Video Viral Diduga Hisap Sabu, Ini Penjelasan Polres Nias
Paskalis mengatakan, Langa tidak dapat dipisahkan dari tradisi Reba, sehingga kebutuhan masyarakat menjelang perayaan adat dan budaya tersebut menjadi salah satu perhatian koperasi.
“Semua orang Langa boleh menyimpan dan pada saat Reba uang itu siap dipinjamkan, asalkan menjadi anggota,” katanya.
Skema tersebut, menurut Paskalis, merupakan bagian dari upaya koperasi untuk hadir dalam kebutuhan nyata anggotanya, bukan sekadar menjadi lembaga simpan pinjam.
Baca Juga:
Uang Simpanannya Gak Dicairkan, Nasabah Dirikan Tenda di Depan Kantor KSP3 Cabang Gunungsitoli
Perayaan 40 tahun Kopdit Karya Kasih Langa semakin bermakna karena dirangkai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden.
Dalam refleksi atas perjalanan koperasi tersebut, Paskalis mengatakan Uskup Agung Ende melihat bahwa Kopdit Karya Kasih memiliki akar sejarah yang kuat dari kelompok masyarakat yang pada saat itu berada dalam kondisi lemah, khususnya kaum ibu dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.
Namun dari keterbatasan tersebut justru lahir keberanian untuk membangun sebuah organisasi ekonomi yang berorientasi pada solidaritas dan kepedulian.