“Sebagai pelatih kepala, saya merasa bangga dan terharu dengan perjuangan anak-anak yang pantang menyerah. Semua ini terjadi karena campur tangan Tuhan,” ungkap Baldus dengan suara bergetar.
Baginya, voli bukan sekadar olahraga. Ia adalah jalan pengabdian, alat untuk memuliakan Tuhan, dan ruang untuk menanamkan ketulusan dalam setiap usaha.
Baca Juga:
Tampil Gemilang, SMAK Recis Jadi The Winner Lomba Debat Bahasa Indonesia, Mauren Dinobatkan Best Speaker
Rasa syukur yang sama juga disampaikan Kepala Sekolah RECIS, Herdin Ndiwa. Ia memaknai keberhasilan ini sebagai berkat yang mengalir melalui banyak tangan—pelatih, guru pendamping, orang tua, hingga pemerintah daerah.
“Ini adalah berkat Tuhan yang nyata. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus mendukung perjalanan tim ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kemenangan, Herdin berharap momentum ini menjadi ruang pembelajaran hidup bagi para siswa. Bahwa melalui voli, mereka tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menghidupi nilai-nilai utama RECIS: kejujuran, disiplin, kerja keras, kerjasama, dan tanggung jawab.
Baca Juga:
Andra Maurensia Guwa Rodja “Rebut Panggung” Best Speaker Lomba Debat Antar SMA
Di tengah gemuruh kemenangan, RECIS tetap berdiri dengan satu pesan sederhana namun kuat: tetap bersatu, semangat, dan optimis.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan terbesar mereka—bukan hanya pada pukulan keras atau blok yang rapat, tetapi pada hati yang tulus dan keyakinan yang tak pernah padam. [frs]