Ngada-NTT.WahanaNews.co| Sorak sorai itu belum juga reda ketika peluit akhir dibunyikan pada Minggu (3/5). Di lapangan Turnamen Voli Putri Unika Cup III, tim voli putri SMA Regina Pacis Bajawa (RECIS) kembali menegaskan dominasinya—bukan sekadar menang, tetapi mengukir sejarah sebagai treble winner.
Kemenangan tiga set langsung atas SMAN 1 Langke Rembong menjadi penutup manis perjalanan mereka tahun ini. Namun bagi RECIS, kemenangan ini bukan hanya tentang angka di papan skor. Ini adalah cerita tentang konsistensi, ketulusan, dan iman yang mereka bawa sejak Unika Cup pertama hingga yang ketiga.
Baca Juga:
Tampil Gemilang, SMAK Recis Jadi The Winner Lomba Debat Bahasa Indonesia, Mauren Dinobatkan Best Speaker
Sejak awal keikutsertaan dalam turnamen bergengsi ini, RECIS tak pernah absen. Lebih dari itu, mereka selalu pulang dengan prestasi. Tiga edisi, tiga gelar juara—sebuah capaian yang menempatkan mereka di puncak, tak tergoyahkan.
Yang membuat kisah tahun ini semakin menarik adalah keberanian RECIS menurunkan dua tim sekaligus: Tim A dan Tim B. Sebuah langkah yang bukan hanya soal strategi, tetapi juga tentang memberi ruang bagi lebih banyak talenta untuk tumbuh.
Hasilnya tak main-main. Tim A tampil sebagai juara utama, sementara Tim B menyusul dengan raihan juara IV. Sebuah bukti bahwa kedalaman skuad RECIS bukan sekadar pelengkap, melainkan kekuatan nyata.
Baca Juga:
Andra Maurensia Guwa Rodja “Rebut Panggung” Best Speaker Lomba Debat Antar SMA
Di balik gemilangnya prestasi itu, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap namun berdampak besar. Pelatih kepala Baldus Daga, bersama para asisten—Ovan, Goris, dan tim—menjadi fondasi dari perjalanan panjang ini.
Latihan demi latihan, disiplin yang ditanamkan, hingga nilai-nilai yang dihidupkan, semuanya menyatu dalam setiap permainan anak-anak RECIS.
“Sebagai pelatih kepala, saya merasa bangga dan terharu dengan perjuangan anak-anak yang pantang menyerah. Semua ini terjadi karena campur tangan Tuhan,” ungkap Baldus dengan suara bergetar.
Baginya, voli bukan sekadar olahraga. Ia adalah jalan pengabdian, alat untuk memuliakan Tuhan, dan ruang untuk menanamkan ketulusan dalam setiap usaha.
Rasa syukur yang sama juga disampaikan Kepala Sekolah RECIS, Herdin Ndiwa. Ia memaknai keberhasilan ini sebagai berkat yang mengalir melalui banyak tangan—pelatih, guru pendamping, orang tua, hingga pemerintah daerah.
“Ini adalah berkat Tuhan yang nyata. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus mendukung perjalanan tim ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kemenangan, Herdin berharap momentum ini menjadi ruang pembelajaran hidup bagi para siswa. Bahwa melalui voli, mereka tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menghidupi nilai-nilai utama RECIS: kejujuran, disiplin, kerja keras, kerjasama, dan tanggung jawab.
Di tengah gemuruh kemenangan, RECIS tetap berdiri dengan satu pesan sederhana namun kuat: tetap bersatu, semangat, dan optimis.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan terbesar mereka—bukan hanya pada pukulan keras atau blok yang rapat, tetapi pada hati yang tulus dan keyakinan yang tak pernah padam. [frs]