Ngada.NTT.WahanaNews.co| Asisten 2 Setda Ngada, Nicolaus Noywuli mengingatkan bahwa Koperasi Kredit (Kopdit) Setiawan harus mampu membaca situasi dengan bijak.
Saat ini koperasi kredit menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ditengah masyarakat, tumbuh berbagai bentuk lembaga keuangan informal maupun formal, termasuk koperasi harian dan skema pinjaman cepat yang menawarkan kemudahan tanpa banyak persyaratan administrasi.
Baca Juga:
Turnamen Futzal Peternakan Cup I Ditutup, Stiper FB “Lirik” Pertandingan Antar SMA/SMK
Hal ini disampaikan Nicolaus Noy ketika mewakili Bupati Ngada membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Setiawan Tahun Buku 2025, Kamis (05/3/26) di Bajawa.
Menurut Nico Noy panggilan akrabnya, masyarakat kita, khususnya pelaku usaha kecil dan keluarga berpenghasilan minim atau harian sering kali membutuhkan akses pembiayaan yang cepat, sederhana, dan tidak berbelit-belit. Ini adalah realitas yang tidak bisa diabaikan, ujarnya.
Koperasi formal seperti Kopdit Setiawan kata dia, harus mampu membaca situasi ini dengan bijak. Di satu sisi, kita tetap menjaga prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta perlindungan terhadap dana anggota.
Baca Juga:
Ibarat Hutan Tidak Terurus, Nico Noy Ajak Warga Wolokuku Jadi Mitra PT. BIS, Jadikan Kemiri Sunan Potensi Unggulan

Peserta RAT Kopdit Setiawan Tahun Buku 2025.
Namun disisi lain lanjut Nico Noy, koperasi juga dituntut untuk menghadirkan layanan yang adaptif, respsonsif, dan memudahkan.
Koperasi kata dia, tidak boleh kalah cepat, tidak boleh kalah dekat, dan tidak boleh kalah memahami kebutuhan anggotanya sendiri.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian dan arah bersama bagi koperasi ke depan.
Pertama, koperasi perlu menghadirkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan anggota, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Kedua, penyederhanaan prosedur bagi anggota dengan rekam jejak yang baik perlu dipertimbangkan agar koperasi tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Ketiga, penguatan sistem manajemen resiko dan tata kelola yang profesional harus terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan anggota.
Keempat, koperasi perlu mengembangkan pola pendampingan usaha sehingga pembiayaan yang diberikan benar-benar mendorong usaha produktif, bukan konsumtif semata.
Kelima, pemanfaatan teknologi dan sistem administrasi yang lebih modern perlu ditingkatkan agar pelayanan menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien.
Keenam, koperasi harus memperkuat perannya sebagai mitra pembangunan desa, mendukung lahirnya produk unggulan berbasis potensi lokal sejalan dengan semangat One Village One Product.
“Inilah tantangan sekaligus peluang kita. Koperasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya akan tetap kuat dan dipercaya,” ketus dia.
Lebih lanjut Nico Noy bilang, pinjaman bukan sekedar soal uang yang dicairkan. Pinjaman harus menjadi alat pemberdayaan.
Menurut dia, setiap pembiayaan yang diberikan harus mendorong produktivitas, memperkuat usaha anggota, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Koperasi yang kuat bukan hanya yang memiliki aset besar, tetapi yang mampu memastikan bahwa setiap rupiah yang dipinjamkan benar-benar menggerakkan ekonomi anggotanya. Disinilah tutur Nico Noy, letak pembeda koperasi sejati dengan lembaga keuangan lain.
Koperasi tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi membangun manusia dan memperkuat komunitas, tukasnya.
“Saya percaya KSP Kopdit Setiawan memiliki pengalaman, jaringan, dan modal sosial yang cukup untuk menjawab tantangan ini. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berinovasi dan konsistensi dalam menjaga integritas,” ungkap Nico Noy. [frs]