WahanaNews-NTT | Uiversitas Nusa Nipa (UNIPA) Indonesia kembali menggelar Wisuda bagi 555 Mahasiswa angkatan ke XVI Tahun Akademik 2021/2022, Sabtu (24/09/2022) di aula Nawacita Universitas Nusa Nipa.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa, Drs. Sabinus Nabu menitipkan 8 poin keterampilan yang harus dimiliki para wisudawan/ti untuk meraih kesuksesan.
Baca Juga:
583 Mahasiswa UNIPA Wisuda, Sabinus Nabu: Babak Baru Dalam Kehidupan Para Lulusan
8 (Delapan) poin keterampilan untuk meraih sukses tersebut yakni, Pertama, Insting yang kuat, maksudnya adalah kemampuan untuk mengeksploitasi diri untuk mengembangkan dan membangun jejaring kerja.
Kedua, Visioner yakni, Kemampuan untuk melihat peluang masa depan yang belum dilihat orang lain;
Ketiga, Berani. Berani untuk mengubah situasi dilematis atau mengindentifikasi masalah dan merubahnya menjadi peluang (oportunity).
Baca Juga:
Lantik Geri Gobang Jadi Rektor UNIPA, Sabinus Nabu: Pemimpin Harus Berani Melakukan Self Distruption
Keempat, Belajar dan terus belajar, artinya Belajar dari berbagai sumber belajar termasuk mempelajari kisah – kisah orang sukses;
Kelima, Bio Empati artinya, Belajar memahami dan menghormati dari konstruksi alam.
Berikutnya, Keenam adalah Transparansi yang artinya, bersikap terbuka untuk menerima nilai-nilai baru yang penting dalam hidup;
Ketujuh, memiliki proto tipe yang cepat dan tepat. Membuat inovasi yang tepat dan berani mengambil resiko yang artinya keberhasilan dikemudian hari bisa saja di peroleh dari kegagalan-kegagalan disaat awal ketika baru memulai sesuatu.
Dan yang kedelapan adalah, Membangun jejaring. Ada falsafah bila anda ingin kaya harus bisa membuat orang lain kaya. Kekayaan itu tidak generative tetapi distributive.
Lebih lanjut Sabinus Nabu menyampaikan proficiat dan selamat kepada para wisudawan bersama dengan orang tua sembari mengatakan bahwa kesuksesan dalam belajar diperguruan tinggi tentu saja mendatangkan suka cita dan kebahagiaan bagi para wisudawan maupun orang tua.
"Untuk itu saya atas nama badan penyelenggara pendidikan tinggi Universitas Nusa Nipa menyampaikan proficiat kepada para wisudawan bersama dengan orang tua. Keberhasilan putra-putri anda tidak saja mendatangkan kebahagiaan bagi orang tua tetapi juga bagi kami sebagai badan penyelenggaraan pendidikan juga sebagai kado istimewah karena pada tanggal 19 September yang lalu Universitas Nusa Nipa genap 17 tahun." ungkap Sabinus.
Lebih lanjut dalam sambutannya, Sabinus Nabu memotivasi wisudawan/ti dengan sekelumit pesan bahwa upacara wisuda ini, tidak berarti bahwa tugas untuk belajar telah berakhir.
Menurut dia, belajar untuk menjadi pintar, cerdas, berpengetahuan, dan bijaksana, adalah suatu kebutuhan karena dunia terus berkembang begitu cepat dan terus berubah. Berhenti belajar karena menganggap dirinya sudah pintar, berarti ketertinggalan yang merugikan.
"Sebaliknya keberhasilan yang telah saudara raih, merupakan pintu masuk untuk menjelajahi dunia yang penuh misteri." pungkas Sabinus.
"Only who can see the invisible can do the imposible. "hanya yang bisa melihat yang tak kelihatan juga dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin," ungkap Sabinus mengaksentuasi pernyataan Frank Gaines.
Sabinus mengatakan, hal lainnya yang dapat kita tarik pelajaran semasa pandemi adalah dominasi peran teknologi digital dalam hampir semua aspek kehidupan.
Dia menjelaskan, kita menggunakan teknologi digital dalam belajar, rapat, seminar, berbelanja, berusaha ,memelihara kesehatan, hiburan dan sebagainya, dan tentu saja termasuk dalam melaksanakan pekerjaan kita.
"Oleh karena itu, kemampuan saudara-saudari sekalian dalam memahami dan memanfaatkan teknologi digital harus terus ditingkatkan, agar terus dapat mengikuti perkembangan global yang terus berubah sangat pesat." Imbuhnya.
Sabinus menuturkan bahwa para wisudawan ini sangat beruntung karena termasuk dalam generasi milenial yang lahir dan besar di era teknologi digital dan juga disebut sebagai digital native, tentu lebih cepat bisa beradaptasi.
Namun dibalik semua itu, Sabinus Nabu mengingatkan kepada para Wisudawan semua agar mengasah diri untuk menghadapi semua tantangan hidup yang senantiasa tidak dapat diprediksi karena dunia begitu cepat berubah.
Demikian halnya dengan tuntutan dunia kerja yang sangat kompetitive dan rigid, untuk itu dibutuhkan kesiapan mental para wisudawan untuk dapat beradaptasi dengan dinamika yang ada.
Sabinus menambahkan, krisis multidimensi setelah covid-19 yang diperparah lagi dengan perang Rusia dan Ukraina telah membawa dunia termasuk Indonesia dalam era perlemahan pertumbuhan ekonomi yang tentu saja akan berpengaruh dalam dunia usaha.
Ketika dikampus ini kita lanjutnya mengatakan, sedang giat-giat untuk menerapkan kurikulum Kewirausahaan dan Bisnis Digital dikagetkan dengan ambruknya Start Up yang sesungguhnya merupakan mesin pertumbuhan ekonomi yang telah membuka banyak kesempatan berusaha.
Oleh karena itu sebagai seorang sarjana harus berani untuk keluar dari zona nyaman atau berpikir out of the box untuk merintis usaha.
"Kita harus berpikir strategis dan membuat keputusan untuk mengambil opsi dan membuat pilihan, tidak hanya mencari dan menunggu kesempatan kerja yang terbatas berdasarkan job order yang tersedia. Membuat opsi untuk merintis usaha sendiri dengan berbekalkan pengetahuan yang diperoleh selama 4 tahun ditempat ini kiranya anda akan sukses." tandasnya.
Menurut Sabinus, tantangan akan membuat hidup menjadi menarik dan mereka yang berani untuk mengatasi tantangan akan membuat hidup lebih bermakna. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang telah menemukan fasion dalam hidup mereka sehingga mereka mengerjakan apapun dengan penuh kecintaan, kata dia.
Kecintaan akan apa yang dikerjakan akan menjadikan orang sukses sekalipun akan menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan, tutur dia.
Sabinus Nabu menjelaskan, kunci dari sukses adalah mengerjakan dengan sepenuh hati, pantang menyerah, tegar, visioner serta mempunyai mentalitas pembelajar.
"Kita harus bisa menemukan fision sendiri dan menemukan passion bukan berarti bebas dari kesulitan dan tantangan melainkan passion itu sendiri yang akan memampukan seseorang untuk melampaui keterbatasan itu, termasuk keterbatasan didalam diri mereka sendiri." ketus dia.
Dikatakan Sabiinus, Era digital sekarang ini yang mana kemajuan tekonologi komunikasi dan informasi telah merubah pekerjaan-pekerjaan konvensional (pekerjaan lama hilang berganti pekerjaan baru).
Menurut pendapat banyak pakar, pekerjaan yang berbasis pemikiran dan analisis akan bertahan, tetapi pekerjaan yang berbasis standar operasional akan hilang akan digantikan dengan intelektual Artificial, terang dia.
Kata Sabinus, dunia Pendidikan saat ini menghadapi beberapa fenomena baru yang harus dijawab. Fenomena pertama, Evolutionary hangover, yaitu kenyataan dimana laju pendidikan kalah cepat dari perubahan kehidupan dan dunia kerja.
Fenomena kedua, Fundamental Changes in the Economy, Jobs and Businesses, yaitu perubahan-perubahan mendasar dalam ekonomi, kerja, dan bisnis yang menuntut dan melahirkan konsep baru dalam bidang ekonomi yang disebut “Knowledge based economy” (popular dengan sebutan ekonomi kreatif).
Fenomena ketiga, New and Different Skill Demands, yakni adanya tuntutan terhadap kecakapan baru dan berbeda dari masa-masa sebelumnya.
What We Need to Do Now? (Apa yang akan kita lakukan sekarang?) Untuk menjawab tantangan di atas, kebijakan pendidikan tinggi wajib memperhatikan 3 kata kunci, yaitu:
Competition, pendidikan kita harus mampu bersaing baik secara nasional, regional, maupun global.
Compatibility, bahwa SDM yang dihasilkan bisa cocok, selaras (tidak timpang) dengan SDM bangsa-bangsa lain di dunia.
Multiletercy atau Multiliterasi, bahwa Pergurun Tinggi mesti membelajarkan banyak kecakapan kepada peserta didik, tutup Sabinus Nabu. [frs]