Kini, sebanyak 297 siswa dan 27 tenaga pendidik menikmati akses air bersih setiap hari. Lebih dari itu, sekitar 10 rumah guru telah tersambung instalasi, dan warga sekitar turut merasakan manfaatnya.
Yang dulunya mustahil, kini menjadi rutinitas: menyiram tanaman setiap hari, mencuci dengan air bersih, bahkan merancang kebun sekolah sebagai ruang belajar baru.
Kontras dengan masa lalu yang begitu getir.
Seorang guru, Feliyanti, mengisahkan bagaimana mereka dulu menggunakan air irigasi yang tercemar—bahkan bercampur sampah dan bangkai—untuk kebutuhan dasar. Untuk air minum, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 7 kilometer.
Baca Juga:
Penuhi Nilai Siswa, SDN Aren Jaya XII Adakan Outing Class, Segini Biayanya
Realitas yang hari ini terasa hampir tak masuk akal.
Kemanusiaan Tanpa Batas
Bagi Yos Enos Kusumo, Manajer Kemanusiaan yayasan, bantuan ini bukan sekadar program sosial, tetapi panggilan nurani.
Baca Juga:
Desa Perbatasan Toba-Asahan Dapat Anggaran Rp 13,4 Miliar, Alex Zetro: Kami Merdeka!
Mendengar bahwa sebuah sekolah hidup tanpa air selama puluhan tahun menjadi pukulan emosional yang mendorong aksi nyata. Ia menegaskan bahwa solidaritas tidak mengenal batas agama, wilayah, maupun identitas.
Pesan yang ditinggalkan sederhana, tetapi mendalam: jaga apa yang telah diperjuangkan, agar generasi berikutnya tidak perlu merasakan kekurangan yang sama.
Pelajaran yang Lebih Dalam dari Sekadar Air