Talibura, Sikka — Ada penantian yang tidak sekadar panjang, tetapi nyaris menjadi takdir yang diterima dengan pasrah. Selama 45 tahun, SMP Negeri 1 Talibura hidup tanpa satu hal paling mendasar bagi kehidupan: air bersih. Namun hari itu akhirnya tiba—sunyi panjang itu pecah oleh aliran air dari perut bumi sedalam 80 meter.
Bukan sekadar proyek, melainkan jawaban atas doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.
Baca Juga:
Penuhi Nilai Siswa, SDN Aren Jaya XII Adakan Outing Class, Segini Biayanya
Yayasan Gereja Yesus Kristus Orang-Orang Suci Zaman Akhir menghadirkan solusi konkret atas krisis air kronis yang telah membelenggu sekolah di Desa Nebe, Kecamatan Talibura ini sejak pertama berdiri. Fasilitas yang dibangun pun bukan setengah hati: sumur bor dalam, tandon 5.000 liter, 14 titik keran di kelas dan toilet, serta wastafel di halaman sekolah—sebuah transformasi total dari keterbatasan menuju kelayakan.
Dari Krisis ke Harapan
Kepala sekolah, Siti Nuraini Ajid, mengenang masa-masa sulit itu dengan suara yang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan emosi.
Baca Juga:
Desa Perbatasan Toba-Asahan Dapat Anggaran Rp 13,4 Miliar, Alex Zetro: Kami Merdeka!
Sejak menjabat tahun 2020, ia mendapati kenyataan pahit: sekolah ini tidak pernah memiliki akses air bersih. Upaya demi upaya dilakukan—dari pengajuan ke pemerintah daerah hingga perjalanan pribadi ke Kupang. Semua berujung pada janji tanpa realisasi.Hingga akhirnya, titik terang datang di tahun 2024.
Sebuah pesan singkat menjadi awal perubahan. Tawaran bantuan dari yayasan disambut tanpa ragu. Setahun kemudian, pengeboran dilakukan. Januari 2026 menjadi penanda: air akhirnya mengalir.Bukan hanya untuk sekolah.
Air yang Menghidupkan Lebih dari Sekadar Sekolah
Kini, sebanyak 297 siswa dan 27 tenaga pendidik menikmati akses air bersih setiap hari. Lebih dari itu, sekitar 10 rumah guru telah tersambung instalasi, dan warga sekitar turut merasakan manfaatnya.
Yang dulunya mustahil, kini menjadi rutinitas: menyiram tanaman setiap hari, mencuci dengan air bersih, bahkan merancang kebun sekolah sebagai ruang belajar baru.
Kontras dengan masa lalu yang begitu getir.
Seorang guru, Feliyanti, mengisahkan bagaimana mereka dulu menggunakan air irigasi yang tercemar—bahkan bercampur sampah dan bangkai—untuk kebutuhan dasar. Untuk air minum, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 7 kilometer.
Realitas yang hari ini terasa hampir tak masuk akal.
Kemanusiaan Tanpa Batas
Bagi Yos Enos Kusumo, Manajer Kemanusiaan yayasan, bantuan ini bukan sekadar program sosial, tetapi panggilan nurani.
Mendengar bahwa sebuah sekolah hidup tanpa air selama puluhan tahun menjadi pukulan emosional yang mendorong aksi nyata. Ia menegaskan bahwa solidaritas tidak mengenal batas agama, wilayah, maupun identitas.
Pesan yang ditinggalkan sederhana, tetapi mendalam: jaga apa yang telah diperjuangkan, agar generasi berikutnya tidak perlu merasakan kekurangan yang sama.
Pelajaran yang Lebih Dalam dari Sekadar Air
Di hadapan para siswa, sukarelawan asal Amerika Serikat, Daniel Waiyne Stead, menyampaikan pesan yang melampaui proyek fisik ini.
Bahwa setiap bantuan membawa tanggung jawab.
Belajar, bertumbuh, dan suatu hari memberi kembali—itulah siklus kebaikan yang harus terus hidup. Ia menegaskan satu hal yang menjadi inti dari semua perubahan:
Pengetahuan adalah kekuatan.
Dan kini, dengan air yang mengalir setiap hari, siswa SMPN 1 Talibura tidak hanya memiliki akses terhadap kebersihan dan kesehatan, tetapi juga fondasi yang lebih layak untuk belajar, bermimpi, dan mengubah masa depan.