Di kampung-kampung adat, tradisi masih bernapas. Ritual adat masih dijalankan. Tarian-tarian tradisional masih ditampilkan bukan karena kebutuhan pariwisata, melainkan karena menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Cerita-cerita leluhur masih diwariskan dari generasi ke generasi, menjaga identitas yang tak lekang oleh waktu.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Riung tetap teguh memegang akar budayanya.
Baca Juga:
Gubernur Sumbar Mahyeldi Akan Tertibkan Pemandian Ilegal di TWA Mega Mendung
Di sinilah wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk merasakan.
Mereka dapat mendengar kisah-kisah lama yang hidup dalam tutur masyarakat, menikmati kuliner khas pesisir yang kaya cita rasa, menyaksikan nilai gotong royong yang masih kuat, dan merasakan keramahan warga yang menerima tamu layaknya keluarga sendiri.
Sayangnya, kekayaan itu belum banyak diketahui dunia.
Baca Juga:
Ditangkap Propam Terkait Kasus Narkoba dan Asusila, Kapolres Ngada Dinonaktifkan
Ketika berbicara tentang Flores, perhatian wisatawan lebih sering tertuju pada Labuan Bajo, Komodo, atau Kelimutu. Riung kerap hanya disebut sepintas dalam peta perjalanan, menjadi tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain.
Padahal, Riung memiliki daya tarik yang tidak kalah kuat.
Persoalannya bukan pada kurangnya potensi, melainkan minimnya promosi.