Oleh : Julia Maria Madur
(Mahasiswa Keperawatan Unika Santu Paulus Ruteng -NPM: 25201026 Kelas : 2025A)
Baca Juga:
Listrik Andal PLN Sukseskan Pembukaan Jakarta Fair 2026
Ruteng-NTT.WahanaNews.co| Makanan cepat saji saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak remaja. Hampir seluruh di setiap kota terutama di Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Warung dan rumah makan ramai-ramai menyediakan makanan cepat saji dengan harga yang cukup terjangkau dengan cita rasa yang beragam. Selain rasanya yang enak, makanan cepat saji juga mudah di dapat dan tidak membutuhkan waktu lama untuk di menunggu. Karena alasan itulah banyak remaja lebih memilih makanan cepat saji dibandingkan makanan yang masak di rumah atau Original Food.
Sebagian besar makanan cepat saji memang memiliki beberapa keuntungan dan kemudahan. Terutama bagi remaja yang memiliki aktivitas padat. Setelah pulang sekolah atau kuliah, mereka sering merasa lelah dan ingin makan sesuatu yang praktis. Dengan membeli makanan cepat saji, mereka tidak perlu menunggu lama mengisi perut. Namun, kemudahan ini sering membuat remaja terlalu sering mengonsumsinya tanpa memikirkan dampak bagi kesehatan. Saat ini banyak jenis makanan cepat saji yang menjadi favorit remaja, seperti ayam goreng, pentol bakar, gorengan, dan minuman manis.
Baca Juga:
Munas HIPMI XVIII: Sinergi Pengusaha Muda Membangun Kekuatan Ekonomi Nasional
Jenis makanan itu memang memiliki rasa yang cepat, gurih, dan menarik. Selain itu, promosi yang dilakukan melalui media sosial juga membuat remaja semakin tertarik untuk mencoba dan mengonsumsinya secara rutin. Namun, salah satu masalah yang muncul akibat terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji adalah resiko kelebihan berat badan. Sebagian besar makanan cepat saji mengandung banyak lemak, gula, dan kalori. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, berat badan akan meningkat secara perlahan. Banyak remaja tidak menyadari hal ini karena dampaknya tidak langsung terlihat dalam waktu yang singkat.
Selain menyebabkan kenaikan berat badan, makanan cepat saji juga dapat mengurangi kualitas pola makan remaja. Ketika seseorang terlalu sering makan makanan cepat saji, biasanya mengonsumsi sayur, buah, dan makanan bergizi yang lain menjadi berkurang. Padahal tubuh remaja sedang berada pada masa pertumbuhan sehingga membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung perkembangan fisik dan mental .
Rutin mengonsumsi makanan cepat saji juga menyebabkan seseorang menjadi kurang peduli terhadap makanan sehat. Remaja yang sudah terbiasa dengan rasa gurih dan manis yang kuat sering merasa makanan rumahan kurang menarik. Akibatnya, mereka lebih memilih membeli makanan di luar daripada mengonsumsi makanan yang lebih sehat dan bergizi.