NTT-WAHANANEWS.COM+Di tengah sejuknya kawasan wisata Bethesda Krokowolon, Maumere, suara semangat dan diskusi kritis terdengar bersahutan. Selama tiga hari, sejak 8 hingga 10 Mei 2026, puluhan mahasiswa Program Studi Administrasi Kesehatan (Adminkes) Universitas Muhammadiyah Maumere mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM), sebuah ruang pembentukan karakter yang dirancang lebih dari sekadar kegiatan seremonial kampus.
Kegiatan yang diprakarsai Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himapro) Adminkes itu mengusung tema “Menumbuhkan Pemimpin yang Adaptif, Kritis dan Berintegritas dalam Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Modern.” Tema tersebut menjadi refleksi atas tantangan dunia kesehatan yang kini bergerak cepat di tengah arus digitalisasi, perubahan kebijakan, hingga tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks.
Baca Juga:
Bupati Pati Arogan ? Kritik Terjebak Potongan Video
Bagi Ketua Program Studi Administrasi Kesehatan Universitas Muhammadiyah Maumere, Yohanes Paulus Mahe, kepemimpinan di sektor kesehatan bukan hanya soal kemampuan memimpin organisasi, tetapi menyangkut tanggung jawab moral terhadap kualitas hidup manusia.
“Kepemimpinan di bidang kesehatan tidak bisa dipahami hanya sebagai jabatan atau posisi struktural. Kepemimpinan adalah tanggung jawab terhadap mutu pelayanan, terhadap keselamatan masyarakat, bahkan terhadap nyawa manusia,” tegas Yohanes Paulus Mahe saat membuka kegiatan tersebut.
Menurutnya, tema LDKM tahun ini sangat relevan dengan kondisi pelayanan kesehatan modern yang menuntut pemimpin muda mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan sistem kerja baru.
Baca Juga:
Ancaman Pembunuhan Hantui Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi: Sudah Biasa Diancam Sejak Jadi Bupati
“Dunia kesehatan sekarang bergerak sangat cepat dan berbasis digital. Karena itu, seorang pemimpin kesehatan tidak boleh kaku. Ia harus adaptif terhadap perubahan, kritis membaca persoalan, dan yang paling penting memiliki integritas dalam setiap keputusan,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Sistem pelayanan kesehatan saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari transformasi digital rumah sakit, tata kelola data kesehatan, pelayanan berbasis teknologi, hingga meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas layanan publik.
Dalam konteks itu, mahasiswa Adminkes dipandang bukan hanya calon tenaga administrasi biasa, melainkan calon pengelola sistem kesehatan masa depan.
Yohanes menekankan bahwa integritas menjadi fondasi utama yang tidak bisa ditawar.
“Di sektor kesehatan, satu keputusan yang tidak berintegritas dapat berdampak langsung pada kehidupan orang lain. Karena itu, karakter harus dibentuk sejak di bangku kuliah, bahkan dimulai dari organisasi kemahasiswaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan peserta agar menjadikan LDKM sebagai ruang belajar yang sesungguhnya, bukan sekadar agenda rutin tahunan.
“Jangan takut salah, tetapi takutlah kalau tidak mau belajar. Kepemimpinan lahir dari proses, dari keberanian mencoba, gagal, lalu bangkit kembali,” ungkapnya di hadapan peserta.
Dalam suasana penuh keakraban, Yohanes turut menitipkan tiga pesan penting kepada peserta: belajar mendengar, berani belajar dari kesalahan, dan menjaga etika profesi. Baginya, kemampuan mendengar menjadi ciri utama pemimpin yang matang.
“Pemimpin yang baik bukan yang paling banyak bicara, tetapi yang paling peka terhadap kebutuhan tim dan masyarakat yang dilayani,” ujarnya.
Ia menilai Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Kesehatan merupakan miniatur dari sistem pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Melalui organisasi, mahasiswa belajar mengelola sumber daya, membangun komunikasi, menyelesaikan konflik, dan bekerja dalam tim—keterampilan yang nantinya dibutuhkan ketika terjun di rumah sakit, puskesmas, maupun institusi kesehatan lainnya.
LDKM Adminkes 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ajang pelatihan kepemimpinan biasa, tetapi juga ruang pembentukan karakter calon administrator kesehatan yang profesional, kritis, dan berorientasi pada pelayanan kemanusiaan.
Menutup sambutannya, Yohanes Paulus Mahe secara resmi membuka kegiatan tersebut dengan harapan besar agar mahasiswa Adminkes mampu menjadi generasi pemimpin kesehatan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam moral dan integritas.
“Saya berharap LDKM ini menjadi titik awal lahirnya pemimpin-pemimpin kesehatan yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat,” tutupnya.