Ngada.NTT.WahanaNews.co| Kodim 1625/Ngada terus memacu percepatan pembangunan Program Koperasi Merah Putih (KMP) yang tersebar di wilayah kabupaten Ngada dan Nagekeo.
Kepada sejumlah media, Kamis (26/3/26), Dandim 1625/Ngada, Letkol. Inf. Imam Subekti, S.E.,M.I.P menegaskan bahwa percepatan pembangunan tersebut dilakukan demi mengejar target launching di bulan Agustus mendatang.
Baca Juga:
Serahkan Akta Notaris dan SK Badan Hukum kepada 16 KKMP, Berni Dhey: Langkah Penting Memperkuat Gerakan KMP
“Terdapat 42 titik diwilayah Kabupaten Ngada dan Nagekeo. Untuk sementara kita terus pacu, target kita untuk launching nanti pada bulan Agustus" ungkap Dandim yang juga bertindak selaku aktor pendamping, pengawas dan fasilitator KMP.
Untuk 2 wilayah Kabupaten yakni Ngada dan Nagekeo kata Imam Subekti, pihaknya menargetkan sebanyak 319 KMP, dengan rincian Ngada, 206 dan Nagekeo 113.
Dandim bilang, saat ini pihaknya tengah berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah dan Forkopimda lainnya.
Baca Juga:
Pemdes Sihadatuon Gelar Musdes Pra Pelaksanaan Kegiatan Dana Desa 2025, Salurkan BLT dan Insentif Guru
Informasi yang diterima dari Bupati Ngada bahwa lanjut dia, sedang dibahas, apabila masyarakat atau desa tidak mempunyai lahan, maka dapat menggunakan lahan milik Pemda, ataupun milik BUMN serta instansi lainnya.
"Sedangkan untuk sementara yang sudah kami survey, hanya ada dua jenis saja, yakni lahan milik desa dan milik pemda, atau masih dalam satu payung kepemilikan”, ungkap Imam Subekti.
Diketahui, sesuai ketentuan, penyedia lahan atau lokasi adalah pemerintah daerah.
“Kami sebagai TNI bertugas membangun secara fisik, pelaksana di lapangan adalah kami. Ada lahan kita bangunkan, dengan target waktu pembangunan 90 hari dari start sampai finishing. Namun karena cuaca, terkadang molor sedikit dari target 90 hari. Ya karena faktor cuaca”, tukas Dandim.
Meski demikian, Dandim mengaku masih terdapat sejumlah tantangan yang ditemukan selain cuaca.
Ia menyebutkan, terkait tenaga ahli ataupun tukang yang memiliki skill fabrikasi, yang harus didatangkan dari luar daerah, sebab di daerah jumlahnya masih terbatas, sedangkan per titik membutuhkan tim fabrikasi kisaran 10 - 15 orang.
Berikutnya soal material tutur Dandim, masih didatangkan dari luar wilayah, terutama yang fabrikasi besi.
Selanjutnya, mobilisasi barang, juga soal pematangan lahan yang membutuhkan waktu untuk potong dan timbun karena tidak semua medannya rata, tutup Dandim 1625/Ngada. [frs]