Dialog publik Suara Bae dari Timur diawali dengan pembacaan ‘Manifesto Suara Bae dari Timur’ yang merupakan tuntutan masyarakat kepada seluruh pemangku kebijakan untuk memberi perhatian serius, kritis, dan adil terhadap dampak-dampak destruktif dari krisis iklim global terhadap masyarakat, terutama mereka yang paling rentan terdampak seperti kaum petani, nelayan, masyarakat adat, perempuan serta mereka yang hidupnya bergantung pada pengelolaan sumber daya alam.
Manifesto ini dirancang bersama-sama oleh perwakilan dari tiap-tiap koalisi dalam VCA yang sebelumnya telah mengadakan Local Champion Camp, sebuah platform temu untuk mengidentifikasi dan mendukung individu atau kelompok yang telah menunjukkan kepemimpinan dalam aksi iklim lokal.
Baca Juga:
Gelar Dialog Publik Bareng Paslon Wali-Wakil Wali Kota, Ketua ICMI Kota Bekasi Bilang Ini
Manifesto Suara Bae dari Timur berangkat dari problem lokal dan inisiatif, serta kerja-kerja para anggota koalisi VCA yang telah menyumbang banyak praktik baik sebagai bentuk negosiasi, adaptasi, serta resistensi terhadap isu iklim, terutama berkaitan dengan kebijakan yang tidak ramah pada kelompok-kelompok paling terdampak.
Dialog publik yang digelar di
Baca Juga:
Puluhan Komunitas di NTT Tunjukan Berbagai Solusi Krisis Iklim di Gelaran Pesta Raya Flobamoratas
menampilkan tiga pembicara utama, antara lain Arti Indallah Tjakranegara dari VCA, Servasius Sidin dari Koalisi Adaptasi, dan Paulus Hilarius Bangkur, Kepala Dinas Perikanan/Plt. Kepala Bapperida Sikka, dimoderatori oleh Puji Sumedi, manajer program ekosistem pertanian di KEHATI.
Arti Indallah berbagi tentang bagaimana VCA sebagai program berupaya menavigasi aksi-aksi lokal menghadapi perubahan dalam berbagai komunitas dengan isu yang sangat interaksional dan kontekstual.
“Perubahan iklim global, menuntut solidaritas global, kolaborasi bersama semua pihak untuk turut berpartisipasi menjamin keadilan iklim dan kedaulatan ekologis,” ujarnya.