Oleh : SURUOKTAVIANO
Pantai Boba pagi itu tidak ramai oleh hiruk pikuk, melainkan oleh suara yang paling jujur di dunia: desiran ombak. Di tengah pembukaan TOMKA OMK Kevikepan Bajawa, alam seolah menjadi katekis pertama. Setiap gulungan air yang menyentuh pasir membawa kembali ingatan lama tentang janji baptis, tentang doa-doa kecil yang pernah kita ucapkan sebagai anak muda.
Baca Juga:
Polres Labuhanbatu Selatan Terima Hasil Opini Ombudsman 2025, Komitmen Perbaiki Layanan Publik
Iman sering kali terasa seperti sesuatu yang jauh, tersimpan di bangku gereja atau di buku renungan yang mulai berdebu. Namun ketika berdiri di bibir pantai Boba, iman itu turun ke tempat paling nyata: telinga dan hati. Desiran ombak tidak berteriak, ia berbisik. Dan bisikan itu cukup untuk membangunkan memori yang selama ini tertidur.
TOMKA sendiri bukanlah sekadar temu muda. Ia adalah ruang perjumpaan kembali antara generasi muda Katolik dengan akar imannya. Di Boba, perjumpaan itu tidak dimulai dengan ceramah panjang, melainkan dengan kesenyapan yang dipecahkan oleh alam. Inilah cara Tuhan sering bekerja tidak selalu melalui kata, tetapi melalui pengalaman yang menyentuh rasa.
Ratusan OMK dari 20 paroki datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang aktif, ada yang baru kembali, ada yang masih mencari. Namun saat malam pembukaan, jarak itu memendek. Ombak tidak membeda-bedakan siapa yang datang lebih dulu atau siapa yang lebih rajin ke gereja. Ia memanggil semua dengan nada yang sama: pulanglah.
Baca Juga:
Menjemput Dirut PDAM Lematang Enim: Ujian Integritas Pemerintah Daerah
Memori iman yang berbisik itu penting. Sebab tanpa ingatan, iman mudah menjadi rutinitas tanpa jiwa. Mengingat kembali berarti menyadari bahwa kita pernah dipilih, pernah disapa, pernah diberi harapan. Dan ketika ingatan itu hidup kembali, tanggung jawab untuk mewartakannya pun ikut bangkit.
Kevikepan Bajawa memilih Boba bukan tanpa alasan. Tempat ini memiliki daya reflektif yang tidak bisa dibuat oleh panggung megah. Di sini, muda-mudi diajak memahami bahwa menjadi Katolik bukan hanya tentang mengikuti kegiatan, tetapi tentang mendengarkan kembali suara Tuhan yang sering kali datang pelan, seperti ombak.
Tantangannya sekarang adalah menjaga bisikan itu agar tidak hilang saat kami kembali ke paroki masing-masing. Desiran ombak akan berhenti ketika TOMKA selesai, tetapi memori iman harus terus diperdengarkan dalam tindakan—dalam pelayanan, dalam keberanian menjadi terang, dalam kesetiaan pada komunitas kecil di paroki.
Boba,22 Mei 2026