"Ini merupakan bantuan awal sebagai respons tanggap darurat. Kami terus menggalakkan bantuan dan mulai membuka shelter di beberapa titik di wilayah terdampak di daratan Pulau Flores," kata Yuyun.
YBLL juga menyatakan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam membantu masyarakat terdampak, tidak hanya selama masa tanggap darurat, tetapi hingga proses pemulihan.
Baca Juga:
Update Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 68 Orang dan 213 Luka-luka
Pengungsi Tidur di Luar Rumah Bersama Bayi
Salah seorang warga Desa Reruwairere, Kecamatan Palu’e, Kabupaten Sikka, Novan Ngola, mengaku sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan YBLL.
Novan mengatakan, sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, keluarganya belum banyak menerima bantuan. Kondisi tersebut membuat mereka harus bertahan dalam situasi sulit, termasuk tidur di luar rumah bersama bayi mereka.
Baca Juga:
Gempa Ngada Guncang 12 Kecamatan: 2.905 Rumah Terdampak, 1.333 Warga Mengungsi
"Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Yuyun melalui yayasan ini. Sejak awal kejadian tanggal 15 Agustus 2026, hari ini 19 Agustus 2026 kami baru mendapatkan bantuan berupa mi instan, telur ayam dan air mineral," ujar Novan pada Rabu 19 Agustus 2026 usai menerima bantuan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestasi.
"Setiap malam kami harus tidur di luar rumah bersama bayi kami, saat ini kami butuh tikar, kebutuhan perempuan, Susu untuk anak anak Kami, lanjutnya.
Menurut Novan, bantuan kebutuhan dasar seperti makanan dan air minum sangat berarti bagi warga yang masih berada dalam kondisi ketakutan dan belum dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal.