Ngada-NTT.WahanaNews.co| Di saat banyak pemerintah daerah terpaksa memangkas berbagai program akibat kebijakan efisiensi anggaran, Pemerintah Kabupaten Ngada justru mengambil langkah berbeda. Melalui Program Murni Kasih, sebanyak 464 calon mahasiswa asal Ngada dipastikan melanjutkan pendidikan tinggi pada 2026. Pertanyaan yang kemudian muncul, dari mana sumber pembiayaan program berskala besar tersebut?
Penelusuran menunjukkan bahwa keberhasilan Program Murni Kasih tidak semata-mata bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah Kabupaten Ngada di bawah kepemimpinan Bupati Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu (RB-BDN) membangun strategi kolaborasi dengan 15 perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur, Bali, hingga Pulau Jawa untuk membuka akses beasiswa dari berbagai sumber pendanaan.
Baca Juga:
Bukan Sekadar Seragam, Ini Investasi Masa Depan! Ray Bena Serahkan Bantuan untuk 4.500 Siswa, Lepas Kontingen Jambore Mengemban Nama Baik Ngada
Data Tim Fasilitasi Program Bantuan Belajar Kabupaten Ngada mencatat, dari 601 pendaftar, sebanyak 524 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi.
Setelah melalui proses verifikasi dan penempatan, 477 peserta bertahan hingga tahap akhir, dan 464 calon mahasiswa kini memasuki tahap persiapan keberangkatan ke berbagai perguruan tinggi mitra.
Fakta paling menonjol dari program ini adalah komposisi pembiayaannya. Sebagian besar dana justru berasal dari luar APBD.
Baca Juga:
Wabup Ngada Resmikan SMPS Matago Christian College, Babak Baru Pendidikan Pedesaan Dimulai: Sekolah Berasrama Hadir untuk Anak-Anak Pelosok
Bupati Ngada, Raymundus Bena saat memberikan pengarahan kepada 164 Mahasiswa ITS Jember penerima program beasiswa MURNI KASIH. (Foto: Frans Dhena)
Sebanyak 272 mahasiswa memperoleh dukungan dari perguruan tinggi dan yayasan dengan estimasi nilai bantuan mencapai sekitar Rp6,2 miliar per tahun. Dari jumlah tersebut, 239 mahasiswa menerima KIP Kuliah dengan nilai sekitar Rp4,8 miliar, sedangkan 33 mahasiswa lainnya memperoleh beasiswa afirmasi dari kampus dan yayasan senilai sekitar Rp1,4 miliar.
Sementara itu, 192 mahasiswa lainnya mendapat dukungan melalui skema afirmasi Pemerintah Kabupaten Ngada dengan estimasi anggaran sekitar Rp1,5 miliar per tahun.
Dengan skema tersebut, total nilai dukungan pembiayaan mencapai sekitar Rp7,7 miliar. Porsi terbesar berasal dari kolaborasi dengan perguruan tinggi dan sumber pendanaan nasional, sehingga beban APBD dapat ditekan secara signifikan dibandingkan apabila seluruh mahasiswa dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, menjelaskan bahwa strategi tersebut lahir dari kondisi riil rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Kabupaten Ngada.

Berdasarkan laporan Tim Fasilitasi Program Bantuan Belajar, hanya sekitar 30–32 persen lulusan SMA/SMK yang mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dengan faktor ekonomi menjadi kendala utama.
Karena itu, pemerintah mengubah pendekatan kebijakan. Jika sebelumnya bantuan pendidikan lebih bergantung pada kemampuan APBD, kini pemerintah mengambil peran sebagai fasilitator yang menghubungkan mahasiswa dengan berbagai sumber pembiayaan pendidikan yang tersedia.
Langkah tersebut dimulai sejak April hingga Juni 2026 melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan 15 perguruan tinggi. Selanjutnya dilakukan proses seleksi administrasi, penempatan mahasiswa, hingga persiapan keberangkatan yang berlangsung sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
Program Murni Kasih bukanlah program yang lahir secara tiba-tiba. Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Ngada telah lebih dahulu memberangkatkan 152 mahasiswa untuk menempuh pendidikan di ITS Jember serta 38 mahasiswa mengikuti program kuliah magang di Bali. Pengalaman tersebut menjadi fondasi untuk memperluas cakupan program pada tahun ini.
Program ini juga memiliki dasar hukum yang kuat, mulai dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Permendagri Nomor 22 Tahun 2020, Peraturan Daerah Kabupaten Ngada Nomor 5 Tahun 2021, hingga Keputusan Bupati Ngada Nomor 293/KEP/HK/2026 tentang Tim Fasilitasi Program Bantuan Belajar atau Beasiswa bagi Mahasiswa Asal Kabupaten Ngada.
Temuan ini memperlihatkan bahwa di tengah keterbatasan fiskal, keberhasilan sebuah program tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki pemerintah daerah.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membangun kemitraan, membuka akses terhadap sumber pendanaan eksternal, serta memastikan setiap peluang dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan seluruh mahasiswa penerima manfaat mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan kembali mengabdikan ilmu serta kompetensinya bagi pembangunan Kabupaten Ngada.
"Bukan hanya mengantar anak-anak masuk perguruan tinggi, tetapi memastikan mereka kembali menjadi sumber daya manusia yang mampu membangun daerah," tegas Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu usai melepas 164 mahasiswa tujuan ITS Jember, Senin (3/8/2026).
Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Ngada untuk terus memperluas Program Murni Kasih. Hingga akhir masa jabatan RB-BDN, pemerintah menargetkan sedikitnya 2.000 anak Ngada memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui program tersebut. [frs]