Pertama, pariwisata harus berbasis masyarakat. Warga lokal harus menjadi pelaku utama, penerima manfaat utama, sekaligus penjaga keberlanjutan destinasi.
Kedua, keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian lingkungan harus menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. Kekayaan alam Riung merupakan aset utama yang harus dijaga dari eksploitasi berlebihan.
Baca Juga:
Wabup Ngada Resmikan SMPS Matago Christian College, Babak Baru Pendidikan Pedesaan Dimulai: Sekolah Berasrama Hadir untuk Anak-Anak Pelosok
Ketiga, penguatan konektivitas dan kualitas layanan wisata harus menjadi perhatian bersama. Menurut BDN, wisatawan modern tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang nyaman, aman, bersih, dan berkualitas.
Keempat, Riung harus terintegrasi dalam jejaring destinasi unggulan Flores agar mampu menarik arus wisatawan yang lebih besar dan memberi dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat Ngada.
Tak Cukup Wacana, Riung Butuh Aksi Nyata dan Peta Jalan Jelas
Baca Juga:
Murni Kasih, Jejak RB–BDN Membangun Generasi Emas Ngada: Tak Ada Anak yang Tertinggal karena Kemiskinan
Agenda kelima yang ditekankan BDN adalah pentingnya menghasilkan langkah konkret dari forum tersebut. Ia mengingatkan bahwa diskusi dan dokumen perencanaan tidak akan berarti tanpa implementasi yang nyata di lapangan.
Menurutnya, Riung membutuhkan peta jalan yang jelas, pembagian peran yang tegas, serta komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan destinasi dapat berjalan terukur dan berkelanjutan.