Sorak-sorai penonton yang menggema di Stadion Gelora Samador, Maumere, selama gelaran Soeratin Cup U-17 dan Pertiwi Cup 2026 tidak hanya menjadi penyemangat para pemain di lapangan hijau. Di balik riuh pertandingan, denyut ekonomi rakyat ikut berdegup kencang. Puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merasakan langsung berkah dari ribuan penonton yang memadati stadion setiap hari.
Aroma jagung bakar, kopi Flores yang mengepul, aneka jajanan tradisional hingga minuman segar menyambut setiap pengunjung yang memasuki kawasan stadion. Sejak pagi hingga malam, para pedagang nyaris tak pernah berhenti melayani pembeli yang datang silih berganti.
Baca Juga:
Mendagri Tito dan Maruarar Sirait Buka Piala Presiden 2026: Jadi Hiburan dan Tingkatkan Ekonomi Rakyat
Turnamen sepak bola bergengsi tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur itu pun menjelma menjadi ruang kebangkitan ekonomi masyarakat lokal. Bukan hanya atlet dan suporter yang menikmati kemeriahan pertandingan, tetapi juga para pedagang kecil yang akhirnya memperoleh kesempatan memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka kepada ribuan orang.
Koordinator UMKM, Isye Fernandez, mengatakan penunjukan Kabupaten Sikka sebagai tuan rumah merupakan momentum berharga yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
"Kami patut bersyukur dan bangga karena Sikka dipercaya menjadi tuan rumah. Kesempatan ini menjadi ruang promosi yang luar biasa bagi produk-produk UMKM lokal, terutama sektor kuliner yang memang menjadi kebutuhan utama para penonton selama pertandingan berlangsung," ujarnya.
Baca Juga:
Piala Presiden 2026 Resmi Dibuka, Stadion Si Jalak Harupat Dipadati 24 Ribu Penonton dan UMKM Jadi Sorotan
Sebanyak 32 lapak UMKM resmi ditata di kawasan Stadion Gelora Samador. Dari jumlah tersebut, 25 lapak diperuntukkan bagi pelaku usaha super mikro, sementara delapan lapak lainnya ditempati pedagang yang telah memiliki perlengkapan usaha yang lebih besar.
Penataan tersebut dilakukan agar seluruh pelaku usaha memperoleh kesempatan yang sama untuk meraih pembeli tanpa harus bersaing secara tidak sehat. Pendaftaran lapak bahkan ditutup lebih awal demi menjaga keteraturan kawasan stadion sekaligus memastikan setiap pedagang memperoleh hasil penjualan yang optimal.
Menurut Isye, sektor makanan dan minuman menjadi penggerak utama ekonomi selama turnamen. Kontribusinya diperkirakan mencapai 65 hingga 70 persen dari keseluruhan perputaran ekonomi yang terjadi di sekitar stadion.
"Orang datang menonton sepak bola tentu membutuhkan makan dan minum. Di situlah peluang besar bagi mama-mama pedagang dan pelaku UMKM lokal untuk meningkatkan pendapatan mereka," katanya.
Memasuki hari-hari awal turnamen, geliat ekonomi langsung terasa. Penjualan melonjak tajam seiring membludaknya jumlah penonton yang memadati stadion. Meskipun sempat melandai pada hari ketiga dan keempat akibat dominasi pertandingan pagi, optimisme para pedagang kembali meningkat menjelang laga-laga besar yang mempertemukan tim-tim favorit seperti Perse Ende melawan Persami Maumere maupun Flores Timur menghadapi Sikka.
Setiap pertandingan sore menjadi momen yang paling dinanti. Ribuan suporter memenuhi tribun stadion, sementara kawasan UMKM berubah menjadi pusat keramaian. Antrean pembeli terlihat di hampir seluruh lapak. Bagi banyak pedagang, suasana tersebut menjadi harapan baru setelah sekian lama menghadapi tantangan ekonomi.
Lebih dari sekadar berjualan, turnamen ini juga menjadi ajang promosi bagi produk-produk lokal Kabupaten Sikka. Banyak pengunjung dari berbagai daerah mencicipi kuliner khas Maumere dan membawa pulang pengalaman positif tentang cita rasa lokal yang ditawarkan para pelaku UMKM.
Panitia bersama koordinator UMKM juga berupaya menciptakan kenyamanan bagi seluruh pedagang. Setiap pelaku usaha dibekali ID Card resmi sehingga proses keluar-masuk kawasan stadion berlangsung tertib. Fasilitas tenda turut disediakan melalui dukungan sejumlah perusahaan mitra.
Di sisi lain, pengelolaan kebersihan menjadi perhatian serius. Setiap lapak diwajibkan menyediakan kantong sampah sendiri demi menjaga kawasan stadion tetap bersih selama turnamen berlangsung.
Meski pelaksanaan tahun ini dinilai sukses, Isye berharap penyelenggaraan berikutnya dapat menghadirkan penataan lapak yang lebih merata.
"Ke depan kami berharap lapak UMKM tidak hanya terpusat di satu sisi stadion, tetapi dibagi di empat titik sesuai arah mata angin. Dengan begitu penonton lebih mudah menjangkau pedagang dan kesempatan memperoleh pembeli menjadi lebih merata," ungkapnya.
Ia juga mengusulkan penyiraman area sekitar stadion secara berkala agar debu tidak mengganggu kebersihan makanan dan minuman yang dijual para pedagang.
Berakhirnya Soeratin Cup U-17 dan Pertiwi Cup 2026 meninggalkan lebih dari sekadar catatan prestasi olahraga. Turnamen ini menjadi bukti bahwa sebuah perhelatan sepak bola mampu menghadirkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Di balik setiap gol yang tercipta dan setiap sorakan yang bergema dari tribun Stadion Gelora Samador, tersimpan kisah para pelaku UMKM yang berhasil bangkit, meningkatkan pendapatan, memperluas pasar, dan menumbuhkan optimisme baru bagi ekonomi kerakyatan di Kabupaten Sikka.